LH. Dini Official

Alasan Pilih Tinggal Di Yogyakarta

Untuk Menjawab Pertanyaan Alasan Pilih Tinggal di Yogyakarta

Banyak pertanyaan yang datang dari keluarga dan teman mengapa saya pindah ke Yogyakarta, setelah 5 tahun menetap di Surabaya.  Pilihan pindah itu saya dan suami ambil dengan berbagai pertimbangan jangka panjang, walaupun pengambilan keputusan ini begitu cepat terlebih dilakukan pada masa awal genting-nya pandemi. Nah saya akan berbagi cerita mengenai alasan pilih tinggal di Yogyakarta, barangkali ada temen-temen yang terinspirasi untuk tinggal di sini juga yuk tetanggaan he he.

Alasan kami pilih tinggal di Yogyakarta.

Minggu pagi, hari kedua di kota istimewa dengan masyarakat nya yang dikenal berhati nyaman. Disini pagi-pagi sekali saya keluar dari hotel tempat menginap untuk sekedar jalan-jalan menghirup udara segar. Semakin segar karena mendapat sapaan hangat “ Selamat pagi mbak ” dengan wajah ringan dan sumringah dari beberapa bapak-bapak petugas keamanan.

Kemarin saya kebingungan menyebrang jalan raya karena ramai sekali, kebetulan hotel yang saya tempati benar-benar di tepi jalan arteri Yogya – Solo. Bapak Ojol yang sedang lewat tiba-tiba berhenti karena lihat saya agak takut nyebrang dan  bergegas memintakan bantuan kepada petugas jaga untuk menyebrangkan saya, oh bahagia kecil yang indah di awal hari 🥰. Seketika teringat lagu nya Cla-Project,“ pulang ke kota mu ada setangkub haru dalam rindu, masih seperti dulu tiap sudut menyapa ku bersahaja penuh selaksa makna 🤗 ” seperti yang pagi ini saya rasakan suasana penduduk Yogya tidak berubah mereka masih ramah dan santun seperti dulu.

Kota yang dikenal sebagai kota pelajar ini adalah tempat impian yang ingin saya tinggali, barangkali hingga saya menua dan menghabiskan sisa usia bersama anak cucu kira-kira begitu. Tempat dimana orang-orang inspiratif negeri ini bertumbuh, saya ingin mengikuti jejak Buya Hamka sosok yang paling mempengaruhi sudut pandang hidup saya. Tempat dimana banyak orang-orang yang berjasa menata negeri ini agar lebih baik dan bermartabat. Juga tempat dimana keluarga kakek saya berasal, tapi takdir Allah telah membawa saya tinggal di berbagai wilayah di Indonesia dan menjauh dari Yogyakarta. Sementara keluarga kakek sudah tidak bersisa karena telah berpulang kepada sang Pencipta.

Kini mimpi menjadi bagian dari warga Yogyakarta mungkin akan jadi lebih butuh perjuangan mengingat harga tanah wilayah Yogya masuk nomor 2 harga tanah termahal se-Indonesia. Nabung mu harus kuat karena kamu bukan anak konglomerat yang tinggal Mih, Pih, Mih, Pih tunjuk sana sini langsung jadi 😂.

Itulah status instagram saya di awal tahun 2020 lalu, diwaktu pandemi covid awal-awal terdeteksi. Dan 5 bulan sejak saat itu kini keluarga kecil saya sudah menjadi bagian masyarakat Yogyakarta selama kurun 16 bulan hingga saat ini. Sampai tak menyadari betapa cepat-nya Allah mewujudkan doa saya, Allah memang selalu Maha baik selalu sesuai persangkaan hamba-nya terimakasih ya Allah. Walaupun ga punya banyak kemudahan hidup dan memang ga pengen memanfaatkan kemudahan hidup dari orang tua, tetap harus semangat dong ya, karena yang berharga sangat pantas diperjuangkan.

Menguji Ketahanan dan Mengasah Potensi Diri

Seperti kata Om Elon Musk, kita ga boleh berharap kemudahan dari orang tua atau pun dari anak saat kita saat kita tua nanti. Jadi kita harus berjuang untuk diri kita sendiri apapun kondisi-nya, dengan apapun yang kita punya. Pindah dari Kota Surabaya ke Yogya saat hiruk pikuk pandemi dan saat awal kehamilan anak kedua. Banyak hal besar yang kami berdua pertaruhkan, mungkin terdengar gila disaat banyak orang di PHK saya meminta suami berhenti dari karir nya bekerja yang sedang manis-manisnya sebagai staf IT di Departemen Teknik Sipil ITS. Mungkin terdengar gila kami meninggalkan capaian kenyamanan materi yang susah payah kami bangun di sana, dan memilih mulai berjuang lagi dari nol di kota ini.

Kami ingin tumbuh lebih baik lagi, lebih peka, lebih adaptif, lebih tangguh. Karena semakin banyak kesulitan yang berhasil kita atasi sendiri akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih punya integritas. Pada kenyataan-nya memang tidak mudah, tapi kita menyadari ini adalah bagian dari sebuah proses yang memang ingin kami jalani. So, nothing to lose kami ga merasa rugi sama sekali, malah ini mengajari kami lebih dalam pemahaman tentang rasa syukur. Proses ini juga mengajari kami bahwa keberuntungan hidup itu juga harus dengan mengeraskan upaya dan keyakinan. Dan yang paling utama proses ini telah menghadiahi kami banyak sekali pengalaman dan rasa baru tentang dinamika kehidupan.

Kami Ingin Memiliki Kemerdekaan Waktu

Karena hidup tidak hanya sekedar mengumpulkan segunung materi lalu diam menikmati, kami berpikir tentang hal yang jauh lebih esensial dari semua itu, yakni kemerdekaan waktu. Sehingga kami bisa hidup dengan cara yang kami kehendaki dan mewujudkan kemandirian hidup dengan bekerja tanpa ikatan dari siapapun tanpa tuntutan dari manapun. Kami Ingin punya kemerdekaan hidup agar bisa bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Sekarang atau nanti kami pikir sama saja, hemat kami malah lebih cepat akan lebih baik.

Kami ingin anak-anak kami tumbuh bahagia dan memahami adab dalam lingkungan yang tidak mudah menjustifikasi cara hidup orang lain yang berbeda. Sukur sukur kami bisa ikut membantu memerdekakan kehidupan orang lain disekitar kami, doakan kami ya ges bisa terus survive dan progresif disini he he. Dan Yogyakarta sejak dari awal wilayah ini berdiri jauh sebelum berdirinya negara Indonesia sudah memiliki visi seperti ini, jadi saya kira ini lah tempat untuk bertumbuh yang paling tepat bagi orang-orang seperti kami. Tempat yang menjadi rahim lahir-nya bangsa ini dan kami berharap juga mengajari kami hal yang sama tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kami Ingin Mandiri Mengatur Rumah Tangga

Memanglah betul ketika 2 orang memutuskan untuk menikah maka itu tidak hanya menyatukan dua orang tapi juga juga dua keluarga. Tapi ketika kita terlalu mudah untuk mendapat pertolongan dari keluarga maka kita akan lemah dan mudah goyah. Membiasakan jauh dari bayang-bayang orang tua dalam memutuskan apa yang terbaik dalam rumah tangga. Saya kira ini adalah hal yang penting untuk dipikirkan, karena semakin sedikit kepala yang memutuskan sebuah pilihan maka semakin cepat keputusan-keputusan itu dieksekusi dan juga akan meminimalisir konflik yang mungkin terjadi.

Kami tidak ingin waktu kami terbuang untuk perkara-perkara yang tidak penting. Energi kami terbuang untuk selalu menjelaskan dan mengkonfirmasi perbedaan banyak orang. Ini pernikahan kami, dan kami berdua yang berperan besar untuk mengatur nya. Untuk membawa nya sampai sesegera mungkin pada cita-cita pernikahan kami. Mengingat saya dan suami adalah tipikal petualang yang cara berpikir dan cara hidup nya sukar dipahami oleh sebagaian besar orang di negeri ini. Jadi, kami kira inilah sebuah pilihan yang terbaik dan paling efektif untuk kami berdua, untuk sama-sama belajar, untuk mengenal dan memahami satu sama lain lebih dalam lagi.

Pernikahan saya kira adalah fase hidup yang lebih nyata, lebih nyata dalam segala hal baik hal positif ataupun negatif. Saya yakin semua pasangan menikah akan menyepakati ini, bahwa fase pernikahan bukan lah fase yang mudah untuk dilalui. kita mesti pandai untuk mengakomidir banyak sekali perbedaan agar bisa tetap sejalan. Dan menimilasir konflik adalah satu cara tepat untuk mengatasinya, dan jarak bukan selalu berarti penghalang namun juga bisa mempertajam nikmat nya rasa rindu.

Memudahkan Keluarga dan Sahabat Untuk Berkunjung

Alasan lain mengapa akhirnya menjatuhkan pilihan pada Yogyakarta, agar lebih adil antara saya dan suami. Karena keluarga besar kami ada di 2 tempat yang cukup jauh Jakarta dan Surabaya, jadi lumayan repot kalau salah satu ingin mengunjungi. Merasa kasihan jika sanak famili ingin berkunjung sudah kecapean duluan di jalan. Akhirnya kita pilih jalur tengah di antara kedua kota yaitu Yogyakarta.

Selain itu, kota ini juga dikenal sebagai kota wisata jadi akan menjadi nilai tambah bagi sanak famili yang datang tak hanya akan bertemu tapi juga bisa berwisata. Sehingga sepulang dari mengunjungi kami tidak hanya bahagia karena rindu terbayar bertemu anak cucu, tapi juga merasa lebih re-fresh saat kembali ke tempat asal.

Menikah dan memiliki anak membuat kami harus berpikir dua kali untuk pergi-pergi jauh,  jadi kami berpikir efisien terutama untuk mendukung produktifitas dan kebutuhan untuk tetap bisa traveling. Dan Yogya memberi apa yang kami butuhkan, dan di tempat ini pula jadi tempat yang dituju banyak sekali orang tak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri. Kami berharap kota ini juga bisa jadi tempat untuk sering bertemu teman-teman yang sedang ada acara di Yogya dan juga kolega-kolega dari luar negeri.

Lebih Mudah Menjangkau Gunung dan Pantai

Gunung dan pantai adalah 2 manifestasi dari diri saya dan suami. Kami sebenarnya punya latar belakang hobi yang berbeda, saya lebih sering ke gunung karena memang topografi tempat tinggal lebih dekat dengan pegunungan. Sementara suami adalah orang pesisir yang lebih senang bermain dilaut. So, Yogya is the best choice karena sekali lagi tempat ini menyediakan apa yang memang kami berdua butuhkan.

Banyak pegunungan yang bisa kami jangkau dari sini, banyak pantai yang bisa kami jelajahi di selatan Yogyakarta. Wisata sejarah, budaya dan kuliner, studio seni, literasi saya kira semua ada disini. Sebagai pekerja kreatif memang tempat inilah yang lebih cocok untuk kami tumbuh.

” Jogja jogja jogja istimewa istimewa untuk, untuk kita semua. Jogja jogja jogja istimewa, istimewa tempatnya istimewa orangnya “. 

Sepenggal bait lagu karya Jogja Hip Hop Foundation yang merupakan para seniman asli Yogya ini bukanlah isapan jempol. Saya merasakan nya sendiri, Yogya mampu membuktikan bahwa adab memanusiakan manusia dan kesantunan yang sudah mentradisi adalah magnet terbaik untuk menarik perhatian mata dunia. Tak heran dulu Yogya menjadi poros peradaban di Tanah Jawa, pun sampai saat ini karisma warga asli dan wilayah nya sedikitpun tidak berubah, terimakasih Yogyakarta telah menginpirasi banyak orang.

Sebagai penutup mari kita ingat pesan legendaris dari bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantoro ini, Ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso tut wuri handayani yang artinya jika seseorang ada di depan jadilah teladan, jika ada ditengah jadilah pembangun, dan jika ada dibelakang jadilah pendorong. Maksud tersirat nya adalah seseorang yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang – orang disekitarnya dapat merasakan situasi yang baik dan bersahabat. Sehingga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat. Itulah citra diri yang sepakat dibangun oleh masyarakat asli Yogya, dengan kredo Yogya berhati nyaman.

Nah sekian dulu sharing ini terimakasih sudah mampir di blog Ibu Petualang. Untuk blogpost berikut nya saya akan bercerita bagaimana rasanya jadi warga Yogya dan bercerita lebih banyak lagi seluk beluk tentang Yogya dimata saya, sampai jumpa.

 

Avignam Jagat Samagram

 

Facebook Comments Box
mm

LH. Dini

Seorang INFJ produk Mayor Minor Biologi - Teknologi Pangan IPB yang bahagia menyebut diri-nya Ibu Petualang

Konten tulisan adalah ekspresi hati, pikiran, pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah di jalani

Karena jika usia dimakan waktu maka kenangan yang disimpan akan bertahan selama-nya.

Tinggal di Yogyakarta, bisa di kontak pada : lulu.biologistindo@gmail.com

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.