LH. Dini Official

Goa Selarong, Menapaki Jejak Perjuangan The Great Commander Of Field War

Barangkali sebagian sahabat pembaca pernah mendengar nama tempat yang satu ini dalam buku sejarah. Ya Goa Selarong, sebuah situs sejarah berharga yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan rakyat jawa dalam menumpas penjajahan belanda.  Berupa gua yang pernah digunakan sebagai tempat pelarian dan kediaman sementara Pangeran Diponegoro, yang terletak di wilayah Selarong Bantul Yogyakarta. Putra sulung dari raja Hamengkubuwono ke III. Seorang komandan perang yang dinobatkan oleh para sejarawan dunia sebagai The Great Commander Of Field War atau komandan hebat di arena pertempuran, yang dianggap setara dengan Napoleon Bonaparte.

Bagian depan area wisata sejarah Goa Selarong. Picture source.

Tentu para sejarawan tidak sembarangan menyematkan penobatan tersebut kepada sang pangeran yang bernama asli Raden Mas Ontowiryo, mereka telah melakukan kajian dan pembuktian yang panjang selama berpuluh tahun.

Prof. Peter Carey, seorang sejarawan dunia sekaligus pengajar Sejarah Modern di Oxford University yang mendedikasikan 30 tahun waktu nya untuk melakukan riset mengenai Pangeran Diponegoro. Picture source.

Goa Selarong menjadi markas pertahanan sang pangeran beserta keluarga dan para pengikut-nya selama melakukan perang gerilya melawan penjajah belanda. Taktik perang gerilya yang dilakukan Diponegoro sangat membuat pihak belanda kewalahan, terlebih sang pangeran merupakan sosok yang begitu jenius dan pantang menyerah. Tak heran negara itu nyaris menghabiskan sebagian besar kas negara-nya dalam menghadapi perlawanan putra sang fajar ini.

Lukisan Pangeran Diponegoro saat melakukan perang Sabil. Picture source.

Bagaimana tidak pasukan yang dipimpin pangeran selalu bergerak di saat kondisi hujan lebat diantara badai angin dan kilatan halilintar, juga saat dini hari menjelang pagi dimana pasukan belanda sangat tidak siap dalam kesiagaan.

Pangeran Diponegoro dan para pasukan nya yang gagah berani. Picture source

Hal ini menujukkan pangeran Diponegoro secara mandiri behasil membentuk pasukan tangguh di berbagai medan ekstrim. Selain itu kekompakkan dan kedisiplinan pasukan pun sangat teruji dengan kemampuan mereka secara cepat bergerak menyerang dengan tiba-tiba dan menghilang dengan cepat dan tiba-tiba pula, sering nya tidak menyisakan satupun pasukan penjajah dalam pertempuran nya.

Lukisan Pangeran Diponegoro saat memimpin perang Sabil. Picture source.

Saya menjadi mahfum dengan semua ketangguhan itu setelah beberapa waktu lalu menyambangi Goa Selarong di Bantul Yogyakarta. Pertama kali saya agak berekspektasi tinggi tentang Goa bersejarah ini, tapi nyatanya Goa ini hanya sebuah tempat sederhana yang bisa dibilang sangat kecil dan sangat tidak nyaman untuk ditinggali.

Anda harus menaiki puluhan anak tangga yang cukup menguras energi untuk bisa sampai di area muka gua, ada 2 Goa yang bisa anda lihat jika ingin berkunjung ke area Goa Selarong, yaitu Goa Kakung yang khusus ditempati oleh pangeran, dan Goa Putri yang ditempati oleh istri pangeran yang bernama Raden Ayu Retnoningsih.

Puluhan anak tangga yang harus kita lewati untuk sampai di area utama Goa Selarong. Picture source.

Goa Kakung sangat lah kecil dengan ukuran kurang lebih 2×3 meter, dengan bentuk persegi panjang menjorok kedalam yang sepertinya sengaja dibuat dengan cara memangkas batuan besar. Didalam ruangan Goa terdapat 2 bentuk ukiran batu yang sudah pudar pada kedua sisi dinding nya. Sementara terdapat satu bagian batu yang perkiraan saya untuk duduk atau pun berbaring.

Kabarnya Goa ini memang sengaja dibuat oleh pihak keraton Yogyakarta untuk persinggahan pangeran Diponegoro sewaktu masih mendiami keraton. Karena sang pangeran memang dikenal senang bertualang jauh dengan berjalan telanjang kaki juga gemar menyepi diantara alam.

Goa Kakung bagian dari Goa Selarong yang ditempati Pangeran Diponegoro. Picture source.

Sementara keadaan Goa Putri, ternyata tidak lebih baik dari Goa Kakung. Tempat itu benar-benar hanya sebuah celah bebatuan dengan dasar yang hanya sebagian memiliki permukaan yang rata. Selainya hanyalah bebatuan kerikil yang bertebar dimana mana. Goa putri terasa sangat lembab, bahkan saya bisa merasakan rembesan air dari atap bebatuan diatasnya.

Sebuah tempat tinggal yang sangat jauh dari layak untuk ditinggali oleh seorang pangeran dan putri keraton. Tapi itulah sebuah konsekuensi yang harus berani diambil oleh mereka yang tidak ingin ditundukkan oleh kesewenangan kaum penjajah, itulah sebuah konsekuensi yang harus berani diambil oleh mereka yang memiliki prinsip hidup dan martabat.

Goa Putri bagian yang ditempati istri Pangeran Diponegoro. Picture source.

Namun ada yang menarik disini, mengamati letak Goa Selarong yang berada di ketinggian, seperti sebuah manifestasi seorang Diponegoro yang sangat menguasai ilmu spionase. Dimana dia memilih bertahan pada tempat yang sempit, tak terlihat dan sulit dijangkau. Namun dari tempat tersebut ia dengan mudah mengamati situasi diluar dan pergerakan musuh, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Barangkali teknik bertahan seperti ini yang membuat nya sangat sulit ditangkap oleh pasukan penjajah.

Area utama Goa begitu asri, di bawah rindang nya pepohonan dan suara-suara burung menambah suasana syahdu. Semilir angin terasa membawa pikiran saya melayang ke masa Perang Diponegoro atau Perang Jawa dikurun tahun 1825 – 1830. Tidak bisa terbayangkan bagaimana hiruk pikuk nya suasana waktu itu pada tempat kaki saya berpijak ini.

Area utama Goa Selarong yang ada di posisi paling tinggi. Picture source.

Seperti gambaran dalam puisi karya sastrawan kawakan Chairil Anwar berikut ini yang sangat mengagumi sosok Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro

Di masa pembangunan ini…
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api..

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali….
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati…

MAJU…

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu….

Sekali berarti
Sudah itu mati….

MAJU…

Bagimu Negeri
Menyediakan api….

Punah di atas menghamba…
Binasa di atas ditindas…
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai…
Jika hidup harus merasai…

Maju…
Serbu…
Serang…
Terjang…

Syekh Ngabdulkamit Erucakra Sayidin Panatagama Kalifatul Rasulullah Senapati Ingalaga Sabilullah, itulah sebaris nama yang beliau sematkan untuk diri-nya sendiri selama 5 tahun memimpin perang sabil melawan pasukan penjajah. Meski beliau sadar ia pada akhirnya akan kalah tapi ia tetap tidak menyerah sampai diakhir pengasingan-nya di Makassar Sulawesi, beliau masih sempat menuliskan autobiografi nya sendiri dalam karya fenomenal nya yang berjudul Babad Diponegoro dan diakui UNESCO sebagai salah satu manuskrip Memory of The World.

Keterangan tidak tersedia.
Babad Diponegoro, sebuah karya yang dibuat oleh Pangeran Diponegoro dalam pengasingan nya di Makassar, diselesaikan selama 9 bulan sebanyak 1170 halaman. Di akui UNESCO sebagai manuskrip Memory Of The World. Picture source.

 Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati” (Sejari kepala, sejengkal tanah dibela sampai mati).

Gambar sketsa arang Pangeran Diponegoro yang di buat di gedung kegubernuran Batavia yang saat ini sebagai Museum Fatahillah Jakarta, sebelum diasingkan ke Manado. Picture source.

Itulah slogan heroik yang digaungkan dengan keras oleh Pangeran Diponegoro sebagai bentuk perlawanan nyata terhadap kesewenangan pejajah belanda yang telah mengalungkan penderitaan panjang rakyat jawa. Slogan yang mampu menyatukan seluruh kalangan rakyat mulai dari golongan bangsawan, ulama-santri hingga rakyat jelata. Dibawah panji kepemimpinan dan karisma sang putra raja, mereka bahu-membahu dengan gagah berani tak takut mati berjuang menyerbu musuh tanpa kenal lelah dan menyerah.

Visualisasi Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Picture source.

Belanda merugi 20 juta gulden, sampai harus mengirimkan pasukan tambahan dari Aceh demi memburu nya.  8.000 serdadu tewas, 7000 Pribumi penghianat terbujur kaku akibat kobaran komando Diponegoro, Kyai Maja, Pangeran Mangkubumi, Panglima Sentot Alibasya dan dua belas darah biru lainnya. Dari Selarong, 200.000 nyawa melayang, akhir dari perang besar ini telah banyak sekali memakan korban jiwa dari rakyat Jawa. Yogyakarta pada saat itu menjadi begitu lengang karena ditinggal mati sebagian besar penghuni nya.

Pangeran kalah, namun Jawa bangkit! kobaran api perlawanan nya menginpirasi rakyat nusantara. Bagai obor yang terang menyala, Diponegoro telah menyulut api semangat merebut kemerdekaan meratakan nya hingga berbagai penjuru. Ia menjelma bagai kompas kepemimpinan dan kejuangan bangsa yang berbondong-bondong diikuti. Menjadi tokoh Indonesia terbesar pada abad ke- 19.

Tapi sangat disayangkan, pejuang alim itu akhirnya tertangkap, akibat kelakuan lacur pengkhianat belanda yang menodai perjanjian gencatan senjata di Magelang. Akhirnya panji-panji perang yang diusung nya selama 5 tahun telah ditumbangkan, beliau diasingkan ke Manado dan wafat di kampung Jawa Makassar meninggalkan sejuta jejak dan kenangan.

Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang. Picture source.

Mungkin masa nya telah berlalu, namun lembaran sejarah telah mencatat bahwa ada seorang ksatria hebat pernah terlahir di negeri zamrud khatulistiwa ini. Bukan ksatria dalam dunia fiksi, dia nyata sangat di kagumi bahkan oleh pihak belanda sendiri, kehebatanya tak bisa diingkari. Ia telah dikenang oleh dunia yang memuliakanya dengan sebutan The Great Commander of Field War. Sebuah kenyataan yang seharusnya membuat kita sebagai generasi penerus merasa bangga dan terinspirasi.

Pangeran Diponegoro dinobatkan oleh para sejarawan dunia sebagai The Great Commander of Field War. Picture source.

Di masa sekarang ditengah kekosongan figur seorang pemimpin yang dirindukan rakyat, akankah kehadiran seorang pemimpin hebat seperti Pangeran Diponegoro bisa muncul kembali mengangkat martabat bangsa. Dan menghembuskan lagi nafas kemerdekaan sesungguhnya yang kian pudar di negeri ini. Seorang pemimpin yang berpihak kepada penderitaan rakyat dan yang akan mempertahankan sejengkal tanah bangsa nya, meski harus mengucurkan darah,  mengobarkan harta dan nyawa nya sendiri.

Goa Selarong menjadi saksi gegap gempitanya perang terbesar di Indonesia pada abad ke- 19. Juga menjadi keterkejutan dunia masa kini, tentang bagaimana sebuah perang besar dan strategi jenius yang digunakan hanya dipersiapkan pada sebuah lubang goa yang sangat kecil dan tak layak huni dalam kondisi serba terbatas. Melihat kenyataan ini, kita mesti sadar dan bangun dari rasa pesimis terhadap diri sendiri, rasa pesimis terhadap keadaan. Karena kita adalah bangsa yang dibentuk oleh orang-orang hebat yang kemampuan-nya mencengangkan dunia. Jika seorang Diponegoro mampu menggetarkan hegemoni kaum penjajah, bagaimana jika ada 10, 20, 30, 100 Diponegoro baru di negeri ini, sungguh Indonesia akan sangat terpandang martabat-nya para penjarah sumber daya alam negeri ini dibuat ciut nyali nya.

Goa Selarong, Sebuah tempat yang menanti untuk disambangi oleh generasi penerus bangsa Indonesia. Agar spirit perjuangan Diponegoro dapat terus mengalir ke dalam jiwa-jiwa kita sebagai  generasi harapan. Siapapun kita, dimanapun kita, apapun pekerjaan kita semoga ada diantara kita yang masih memiliki semangat juang yang besar dalam melindungi tanah tumpah darah ini dengan cara kita masing-masing. Sebagaimana perjuangan besar yang telah dilakukan oleh Pangeran Diponegoro dan para pasukan nya pada masa lalu.

Terkhusus sahabat pembaca yang berprofesi sebagai pengajar, jadikanlah wisata sejarah Goa Selarong ini menjadi bagian wajib dalam kegiatan studi tour kalian. Dan untuk sobat petualang, jadikanlah situs sejarah berharga ini sebagai salah satu destinasi yang akan kalian tuju. Sebuah tamparan keras bagi kita semua, karena kita mengenal kehebatan pendahulu kita bukan dari tangan kita sendiri namun justru dari tangan orang asing nun jauh disana.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsa nya. Melestarikan, merawat, menceritakan kembali demi mencukupi wawasan anak cucu di masa mendatang agar mereka tak lupa akan jati diri. Terimkasih telah membaca tulisan ini, dengan me-like dan membagikan nya melalu sosial media, sahabat pembaca telah ikut berkontribusi melestarikan salah satu situs sejarah berharga Indonesia. Juga ikut serta membuka mata dan menyadarkan mereka yang telah lupa akan sejarah besar bangsa nya. Atau bisa jadi dengan share sahabat pembaca mampu mencegah orang lain dari berputus asa dan memilih bangkit untuk bergerak. Sampai jumpa pada blogpost inspiratif berikut nya, salam.

 

Avignam Jagat Samagram

Baca juga: Cara menuju Goa Selarong.

Baca juga: 7 Malam Di Tempat Persinggahan Para Dewa, Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Masyarakat Dataran Tinggi Dieng.

Baca juga: Bermain Sambil Belajar Di Pantai Pok Tunggal Gunung Kidul.

Facebook Comments Box
mm

LH. Dini

Seorang INFJ produk Mayor Minor Biologi - Teknologi Pangan IPB yang bahagia menyebut diri-nya Ibu Petualang

Konten tulisan adalah ekspresi hati, pikiran, pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah di jalani

Karena jika usia dimakan waktu maka kenangan yang disimpan akan bertahan selama-nya.

Tinggal di Yogyakarta, bisa di kontak pada : lulu.biologistindo@gmail.com

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.