LH. Dini Official

Haruskah Bercerai?

0

Beberapa waktu belakangan ini jagat Indonesia dihebohkan tentang kabar perceraian yang dialami oleh salah satu publik kenamaan Indonesia Laudya Chintya Bella dengan sang mantan suami Engku Emran dengan usia pernikahan yang masih bisa dibilang baru seumur jagung. Tentu mengagetkan mendengar kenyataan ini, karena pasal-nya kedua nya selalu tampak harmonis dan menampilkan momen – momen kebersamaan yang manis. Bicara mengenai permasalahan yang satu ini mengharuskan kita dapat melihat dari berbagai sudut pandang dan tidak sibuk mencari siapa yang salah. Bahasan mengenai perceraian memang sangat sensitif dan cenderung mengerikan untuk sebagian orang, tapi justru kita semua perlu belajar agar suatu waktu kita dapat mencegah berbagai masalah yang dapat memicu runtuh nya hubungan pernikahan.

Setiap pasangan yang sudah menjalani proses berumah-tangga tentu dapat memahami bahwa fase ini begitu rentan, mengingat didalam nya ada dua kerpibadian yang berbeda, dengan pikiran dan perasaan yang berbeda, dengan prinsip hidup yang mungkin saja berbeda namun harus mampu terus berjalan seiringan dan sekuat tenaga untuk terus mempertahankan nya hingga dalam waktu yang lama atau hingga maut memisahkan.

Pada hakikat nya, tak ada seorang pun yang menginginkan ikatan pernikahan-nya runtuh, namun ternyata banyak hal yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia di dunia ini sehingga langkah perceraian pun menjadi jalan keluar terbaik untuk kedua belah pihak.

Bagaimana pandangan Ibu Petualang mengenai masalah ini?

Pernikahan merupakan ikatan yang sakral dan suci, menjaga nya dengan sikap kedewasaan adalah hal yang mutlak, merawatnya dengan kesetiaan adalah keharusan, dan menyelerasakan konflik yang mungkin terjadi dengan ketidak egoisan adalah hal yang terbijak. Banyak pernikahan yang berakhir karena salah satu ataupun kedua belah pihak telah melakukan cela pada nilai-nilai tersebut.

Dalam hubungan antara dua orang maka prinsip yang dipegang adalah keadilan, jika didalam nya terdapat ketimpangan yang memberatkan dan menyakiti salah satu pihak, pendapat saya tidak mengapa perceraian dilakukan karena hubungan yang terjadi sudah menjadi racun bagi salah satu pihak.

Lalu Bagaimana Bercerai dengan Sudah Memiliki Anak?

Tentu-nya permasalahan ini akan terasa semakin rumit karena subjek yang terhubung tidak hanya lagi suami dan istri namun juga menyangkut masa depan anak-anak. Saya banyak menyaksikan kejadian pasangan yang berusaha mempertahan kan biduk rumah tangga nya dengan alasan memikirkan nasib anak-anak, namun kehidupan pernikahan yang mereka jalan begitu hambar. Lalu apa yang bisa diharapkan dari hubungan seperti ini untuk nasib anak-anak, apakah mereka juga tidak ikut terluka dan hampa menyaksikan hubungan kedua orang tua-nya bagai air dan minyak disepanjang masa tumbuh nya. Mereka juga akan tersiksa dengan keadaan ini.

Jika anak-anak menjadi alasan mempertahankan pernikahan dari perceraian mestinya sejak awal siapapun yang memulai cela sadar dan dapat menahan diri dari gangguan yang datang dari luar ataupun dari dalam bagaimanapun bentuk nya. Itulah sebuah kesadaran yang harus dibangun sejak awal, namun kembali lagi tidak semua pasangan sudah membawa bekal kedewasaan dan kemampuan menahan ego saat awal menikah maka hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini harus terjadi. Tidak hanya satu orang yang akan terluka tapi banyak sekali, terutama anak dan dan orang-orang terdekat.

Perceraian yang terjadi setelah memiliki anak akan sangat berat dirasakan pada pihak perempuan, terlebih bila mereka sedang dalam proses intens mengasuh anak. Dimana mereka dalam keadaan serba terbatas harus mampu mandiri secara finansial juga mandiri secara mental namun dengan energi yang terbatas. Meski demikian perceraian dalam kondisi tersebut tetap saja harus terjadi karena bila terus dilanjutkan akan semakin berpotensi melahirkan konflik-konflik baru yang semakin tidak menyehatkan jiwa dan pikiran.

Disini posisi saya mencoba memahami sebagai sesama wanita dan ibu, saya lebih memilih berempati kepada wanita-wanita ini karena apa yang mereka jalani tentu nya tidak mudah. Saya menghargai keputusan mereka untuk memerdekakan diri dari rasa sakit meski secara bersamaan mereka juga akan menanggung beban berat yang lain. Dari beberapa pengakuan orang yang saya kenal dan mengalami problem ini, bagi mereka menanggung beban hidup berat lebih mereka pilih daripada menanggung beban perasaan yang menyayat-nyayat hati. Saya kira wanita memang didesain Tuhan dengan kemampuan multitalenta sehingga mereka bisa mengahadapi itu semua.

Lalu bagaimana jika saya berdiri pada pihak laki-laki? Itu tergantung dalam kasus perceraian siapa yang lebih tersakiti, bisa si istri juga bisa suami. Jika suami merasa terzalimi oleh sikap dan tindakan sang istri dan dibenarkan secara hukum pernikahan tentu kehendak suami untuk mengajukan gugatan perceraian bisa dimaklumi. Saya tidak tahu persis bagaimana perasaan yang dialami para laki-laki setelah mengalami perceraian, namun jika melihat laki-laki merupakan individu yang lebih mengedepankan logika dibanding perasaan dan secara naluriah memiliki energi yang lebih besar untuk melanjutkan hidup dimasa mendatang mungkin mereka akan lebih cepat move on.

Kembali lagi apapun masalah yang menyebabkan terjadinya perpisahan pada akhirnya yang akan menanggung beban lebih berat adalah pada pihak perempuan, oleh karena itu perlu kesiapan yang kuat untuk memutuskan perkara perceraian ini. Salah satu kesiapan utama adalah masalah finansial karena ia harus menanggung biaya kehidupan nya sendiri bersama anak-anak bila hak asuh anak jatuh ketanganya meski ia juga dapat dibantu sokongan dari sang mantan suami namun beberapa kejadian akhirnya wanitalah yang harus berjuang sendiri. Lain hal nya bila perempuan yang menggugat sebelumnya sudah memiliki kebebasan finansial mungkin yang menjadi kesiapan lain adalah mental nya dalam mengasuh anak sambil bekerja.

Bagaimana nasib anak-anak pasca bercerai?

Harus saya tegaskan dalam perceraian baik dengan latar belakang apapun, baik berpisah dengan cara sengit atau baik-baik semuanya akan melahirkan luka bagi anak-anak. Luka yang ditimbulkan dari perceraian ini sangat laten dan dapat mempengaruhi kepribadian anak-anak hingga masa yang lama. Tapi bagaimana lagi banyak hal dalam hidup ini yang jauh dari ideal, tapi itu bukan berarti bahwa selama nya hidup akan seperti itu. Ada hal-hal yang harus bisa kita terima sebagai manusia lemah yang hanya menjalankan skenario Tuhan, penerimaan yang membuat kita bisa belajar menjalani hidup dengan lebih baik lagi.

Perihal bagaimana efek psikologis pada anak ini akan menjadi tantangan tersendiri yang harus siap dilakoni oleh salah satu pihak yang mendapatkan hak asuh utama anak. Meski tidak lagi menjadi keluarga yang utuh, sikap welas asih dan perhatian yang tulus serta jaminan rasa aman untuk anak-anak dapat menjadi obat atas rasa sakit dan kehilangan yang mereka rasakan pasca perceraian. Hadirkan sosok pengasuh yang bisa dipercaya untuk menemani anak-anak saat anda tidak membersamai mereka, mereka bisa dari saudara kandung, kakek atau nenek nya atau siapapun yang memiliki kapasitas yang baik dalam menyayangi anak-anak.

Pesan Pernikahan

Banyak kejadian perceraian yang semestinya dapat menjadi pelajaran bagi pasangan-pasangan yang berencana untuk membangun biduk rumah tangga bersama. Bahwa menikah tidak hanya cukup dengan rasa saling cinta, karena rasa itu dapat saja pudar sewaktu waktu oleh berbagai hal. Menikahlah dalam kondisi psikologis yang stabil, bukan karena tuntutan usia, tuntutan orang tua atau untuk pelampiasan luka atau tuntutan diri sendiri bahwa dengan menikah akan mendapatkan kebahagiaan dari pasangan. Kita harus selesai dengan ego dan permasalahan di dalam diri kita sendiri agar dapat menemukan pasangan yang tepat untuk merajut mahligai rumah tangga yang tak mudah karam hingga maut memisahkan. Karena setelah menikah kita tak bisa lagi bersikap seperti itu, akan ada banyak hati yang saling terkait dimana satu luka akan terus menjalar satu sama lain.

Ketika kita memutuskan menikah, disana ada janji yang dipersaksikan oleh Tuhan dan para penduduk langit. Janji yang menuntut komitmen dan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk kepentingan bersama, bukan lagi untuk kepentingan diri kita sendiri. Untuk siapapun yang saat ini sedang melakukan cela dalam pernikahan. saya anjurkan untuk segera menyadari kesalahan dan berhenti untuk menyakiti pasangan hidup kita yang sudah setia menemani proses proses sulit pernikahan. Ingatlah kita telah berjanji dihadapan Tuhan dan janji tersebut pasti akan ditagih pertanggung jawabanya pada waktu nanti.

Lalu bagaimana dengan pernikahan yang saya jalani? Saya sendiri juga tidak bisa menjamin sampai mana jatah pernikahan saya karena semua adalah kuasa takdir dari Sang pembuat skenario kehidupan. Saya berpandangan bahwa pernikahan adalah salah satu bagian fase hidup yang harus saya jalani sebagai manusia. Saya tidak punya harapan yang terlalu muluk tentang pernikahan, selain harapan bahwa saya bisa menjadi orang tua yang dapat dengan baik menjalankan peran sebagai perantara Tuhan untuk membina manusia yang baru, saya juga meyakini kebahagiaan semestinya datang dari diri kita sendiri bukan dari orang lain yang disebut suami atau istri.

Bila pernikahan sudah dirasa tak sehat saya tidak menganjurkan untuk melanjutkan nya, lebih baik disudahi dan mulai lembaran baru tanpa ada lagi racun-racun yang merusak kebahagiaan hidup yang kita jalani. Selama kita mampu merawat kebahagiaan diri kita sendiri maka kita akan mampu pula menjadi figur orang tua yang dapat menjadi sumber ketentraman anak-anak.

Tulisan ini adalah opini saya pribadi, saya tidak menuntut segala hal yang saya tulis kan untuk disepakati. Sekian sharing cerita hari ini, terimakasih sudah mampir di blog lhdini.com sampai jumpa di cerita berikut nya keep sharing, keep caring, keep in touch.

Salam Ibu Petualang

Avignam Jagat Samgram

LH. Dini

0
mm

LH. Dini

Seorang INFJ yang bahagia menyebut diri-nya Ibu Petualang karena separuh hidup dan cinta-nya telah menyatu dengan jalanan. Jika usia dimakan waktu maka kenangan yang disimpan akan bertahan selama-nya.

2 comments

  • 0

    Terima kasih untuk tulisannya mbak! jadi terbuka pikiran buat aku yang masih single ini. apapun keputusan mereka, jika kedua belah pihak itu setuju pasti itu yang terbaik^^

    0
    • 0

      Iya terutama untuk yang berencana menikah perlu banget untuk memahami bahasan ini, udah punya bekal dan ga terkaget kaget dengan dunia pernikahan, pada inti nya perceraian adalah solusi terakhir yg paling baik kalau semua cara ga bisa lagi dipakai, anjuran dalam agama pun demikian. Makasih ya udah mampir salam kenal

      0

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed

This site uses cookies to improve your experience, to enhance site security and to show you personalized advertising. Click here to learn more. By clicking on or navigating the site, you agree to our use of cookies.