LH. Dini Official

Nasihat Dari Ibu Masa Dulu Untuk Ibu Masa Kini

0

Menjadi orang tua memang bukanlah pekerjaan yang mudah, perlu melatih kesabaran setiap waktu. Adakala-nya kita mengalami kelelahan sehingga hilang-lah rasa sabar yang sudah dilatih sekian lama. Sungguh sangat manusiawi, tidak apa-apa itu tanda-nya kita telah mengupayakan segala hal hingga mencapai pada puncak kesabaran kita.

Namun coba kita renungkan kembali, apakah akhir dari segala luapan emosi marah tersebut baik untuk diri kita dan untuk orang-orang yang kita cintai, terutama kepada manusia kecil dengan mata tanpa dosa, iya itu anak-anak kita tersayang yang biasanya akan menjadi tempat luapan kekesalan? saya kira semua dari kita telah memiliki jawaban tepat masing-masing didalam hati.

Tapi nyata-nya kita benar-benar manusia yang lemah terkadang tidak mampu mengontrol diri dalam kesadaran yang baik. Jika kita coba sedikit membandingkan bagaimana para ibu kita dahulu merawat banyak anak dengan begitu tangguh tanpa berbagai alat bantu seperti sekarang, sementara kita saat ini dengan baru 1 atau 2 anak saja sudah kalang kabut.

Ada baik-nya kita belajar dari kebijaksanaan orang tua kita dulu, saya selalu bertanya tentang bagaimana ibu dahulu merawat 5 anak dengan kesadaran yang baik tanpa sering marah-marah. Jawaban dari Ibu saya adalah ” karena zaman dulu teknologi informasi belum semeriah sekarang, jadi mengasuh anak dan mengerjakan urusan domestik rumah tangga tanpa kesibukan dengan gedget dan sejenis-nya. Barangkali itu yang membuat ibu-ibu dulu masih memiliki energi yang cukup untuk menjaga kesadaran diri dan mengendalikan amarah “. Ibu saya juga bilang pada saat hati sedih beliau langsung mencari kita dan dipeluk-nya dengan erat, katanya hati anak yang masih bersih dapat mengalirkan kehangatan dan energi positif yang dapat menyeresap ke dalam hati.

Kemudian saya kembali bertanya, lalu bagaimana dengan menejemen emosi yang dilakukan ketika kakak beradik sedang ribut ? Ibu saya bercerita kali ini tentang nenek yang dahulu menjadi orang tua tunggal dengan 7 anak yang salah satunya masih berusaha 10 bulan diusia-nya yang masih 28 tahun. Kakek meninggalkan beliau karena menderita penyakit yang membuatnya menghebuskan nafas terakhir. Seorang perempuan janda bertubuh kecil yang menolak untuk menyerah menafkahi dan menyekolahkan ke- 7 anak nya dengan berjualan kain jarik keliling kampung yang bila berjualan tidak laku beliau akan pergi kesawah untuk bertani mencari peruntungan yang lain.

Ibu saya menyampaikan nasehat yang sering diucapkan nenek semasa hidup ” Jangan pernah menyakiti anak, jangan pura-pura tidur dan tidak mendengar tangisan-nya, jangan membuat-nya menangis, menakuti-nya apalagi bila anak-anak itu adalah anak yatim tanpa seorang ayah. Sebetapapun tingkah nya yang menjengkelkan kadang menguras kesabaran jangan pernah mendoakan yang buruk untuk mereka, karena Tuhan akan membuat anak-anak yang sering menguji kesabaran orang tua-nya menjadi tameng saat tubuh kita dibakar oleh api neraka akibat dosa-dosa kita didunia, tetaplah bersabar itu akan menjadi pelindung untuk mu kelak “.

Dari banyak cerita yang saya denger di keluarga besar, memanglah beliau seorang yang begitu sabar dan ceria. Ibu saya sendiri pun bercerita sebandel apapun ia dan saudara-nya tidak pernah sekalipun nenek marah, tidak pernah pula tangan nya mencubit atau memukul, bila mereka bertikai nenek malah menjadikan-nya ajang untuk bercanda sehingga pertiakaian pun segera berakhir. Ibu juga bilang cara nenek untuk menyalurkan resah, gelisah dan sedih nya membesarkan 7 anak sendirian adalah dengan menangis. Beliau akan memilih menyepi dan tidak mau diganggu di dalam kamar lalu menangis dan berbicara seolah mengadu kepada kakek, setelah puas menangis barulah nenek keluar. Dengan cara seperti itu nenek meluapkan segala emosinya dan membuat nya mampu bertahan membesarkan anak hingga 7 anak nya dewasa, tanpa menderita berbagai macam penyakit.

Meskipun saya tidak seberuntung kakak-kakak yang pernah merasakan kasih sayang dari nenek. Mendengar banyak cerita-cerita dari warga di berbagai kampung tentang kebaikan nenek, saya membayangkan betapa senang nya seandainya dulu saya bisa mendapat kasih sayang beliau. Ini sungguh mengesankan ternyata perangai baik dapat bertahan begitu lama, benar pribahasa gajah mati meninggalkan tanduk harimau mati meninggalkan belang, kebaikan dan kasih sayang seseorang akan abadi meski raga nya telah tiada.

Pola pengasuhan setiap zaman ada lebih kurang-nya, tapi saya berusaha mengambil hal-hal baik yang masih relevan untuk digunakan di zaman sekarang. Tapi harus saya akui dibanding ibu dan nenek, saya tidak ada apa-apa nya sama sekali, betapa kuat nya wanita-wanita yang pernah hidup dijaman perang. Jika saya mulai annoying sendiri saat mengasuh, saya langsung mengingat oh saya belum ada apa-apanya dibanding ibu dan nenek entah kenapa itu membuat saya mendapat energi baru.

Saya sendiri memiliki pandangan merawat anak bagai bertani menanam biji dan merawatnya hingga tumbuh menjadi pohon yang rindang, banyak buah dan menyejukan setiap kita bernaung dibawah-nya, hasilnya pun dapat kita makan yang dapat membantu kita bertahan hidup lebih lama. Mungkin mula-nya kita harus menjalani proses yang yang melelahkan dan panjang, tapi saat waktu memanen tiba yang ada adalah suka cita melihat keberhasilan proses menanam kita. Tentu-nya kita ingin bukan melihat anak-anak kita berhasil meraih pencapaian yang mereka impikan, tanpa sedikitpun melupakan kita sebagai orang tua nya yang telah mengasuh nya sekian lama. Karena relitanya tidak semua anak dapat peduli dengan masa senja orang tua nya.

Saat ini memang kitalah yang lebih superior dari anak-anak kita, namun jangan pernah lupakan saat posisi itu berganti anak kitalah yang superior sementara kita telah renta dan tidak berdaya. Setiap saya ingin marah melihat anak kadang ngompol dan pup dilantai, menumpahkan air atau makanan, membuat rumah sepeti kapal pecah, merusak barang-barang, saya berusaha sekuatnya untuk menahan diri dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun agar kemarahan tidak mendapatkan jalan yang buruk. Saya mencoba membalikkan situasi bagaimana jika anak lemah ini adalah saya ketika sudah tua dan tak berdaya, ketika sudah lemah dipembaringan lalu saya sering mengompol dan pup dikasur, mengunyah makan terlalu lama akibat gigi yang sudah ompong kemudian saya dimarahi oleh anak ” ibuk ngompol terus pup terus, makan-nya lama cepetan lelet banget dan sebagainya hal-hal buruk yang kadang lepas kendali. Akan kah saya sanggup menerima perlakuan itu, tidak saya tidak akan pernah sanggup menerima itu. Saya tidak ingin diperlakukan kasar oleh anak sebagaimana mereka tidak ingin diperlakukan kasar oleh kita. Saya juga selalu mengingat figur ibu dan nenek, mencoba menjadi oarang tua yang penuh rasa sabar dan sayang. Memang sungguh sulit sangat sulit, apa yang mereka lakukan bukan lah level saya. Tapi saya tetap berusaha sebisa-nya sekuat-nya untuk bisa mencontoh kebaikan mereka menjadi seorang ibu yang begitu dicintai anak-anak-nya.

Cara kita memperlakuakan anak saat ini dapat menjadi refleksi bagaimana cara anak kita memperlakukan kita saat tua nanti. Terusalah bersabar ibu, Tuhan sedang mencatat kebaikan atas kesabaran mu. Bila sabar mu mulai terbatas segeralah beranjak ambilah jarak sejenak dengan anak mu. Jarak akan membuat hati menjadi lebih baik kapada anak mu, jangan biarkan amarah kita menang dan berhasil menggores luka yang sukar dilupakan di hati anak-anak.

Saya, kamu, kita semua adalah manusia yang tidak sempurna marilah saling mengingatkan dan menguatkan karena menjadi orang tua adalah satu-satunya pekerjaan yang paling sulit didunia namun tidak ada sekolah-nya. Setiap kita pasti pernah berbuat salah kepada anak berbesar hatilah pula untuk mau dengan tulus meminta maaf. Kita ambil setiap kepingan kebijaksanaan dari masa ke masa agar kita dapat menjadi orang tua yang tidak memiliki banyak penyesalan diakhir masa nanti.

Sekian cerita berbagi hari ini, semoga ada kebaikan yang bisa diambil walau sedikit. Terimakasih sudah berkenan mampir, keep sharing keep caring.

Sampai jumpa di cerita berbagi berikut nya

Avignam Jagat Samagram

LH. Dini

 

0
mm

LH. Dini

Seorang INFJ yang bahagia menyebut diri-nya Ibu Petualang karena separuh hidup dan cinta-nya telah menyatu dengan jalanan. Jika usia dimakan waktu maka kenangan yang disimpan akan bertahan selama-nya.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed

This site uses cookies to improve your experience, to enhance site security and to show you personalized advertising. Click here to learn more. By clicking on or navigating the site, you agree to our use of cookies.