Sasando adalah jenis alat musik tradisional petik konon kabar-nya kemunculan Sasando telah ada sejak abad ke-7, seringkali alat musik ini mengiringi berbagai kegiatan penting masyarakat pulau Rote di Nusa Tenggara Timur karena Sasando merupakan alat musik asli hasil karya masyarakat setempat. Sasando atau Sasandu dalam bahasa Rote artinya adalah alat yang bergetar atau berbunyi material pembentuknya berupa material-material yang sungguh sangat mudah ditemukan terdiri dari bambu, senar, dan daun lontar yang berfungsi sebagai resonator.

Sebuah Sasando alat musik asli Indonesia khas pulau Rote.

Meski terbuat dari bahan-bahan alam yang sederhana alunan irama yang dihasilkan dari Sasando sangat merdu tak kalah dengan alunan merdu dari harpa dan biola mampu memberikan efek relaksasi, anda pun dapat membuktikan nya sendiri mendengar alunan Sasando sambil memejam mata bagai mendengar alam sedang bernyanyi.

Tampilan Fisik Sasando

Tak hanya menghasilkan irama yang merdu nan syahdu, penampilan alat musik Sasando pun begitu atraktif dan cantik. Tak sekedar alat musik, banyak filosofi mendalam yang terkandung dalam setiap bagian-bagian Sasando. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu, lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar yang direntangkan di tabung dari atas kebawah bertumpu. Ini bermakna bahwa dalam diam sekalipun, orang Rote tetap mampu menggetarkan orang lain dengan irama serta suara merdu penuh keindahan. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar, setiap senar yang berbeda mempunyi arti kemandirian.

Tampilan fisik Sasando yang cantik dan atraktif salah satu warisan seni budaya yang membanggakan.

Meski Sasando dimainkan secara berbeda, nada yang dihasilkan saling mengisi karena setiap nada memiliki peran untuk menciptakan keharmonisan. Hal ini juga mengartikan bahwa keharmonisan bukanlah terletak pada persamaan melainkan pada perbedaan. Senar Sasando yang awalnya berjumlah tujuh konon melambangkan siklus kehidupan seorang anak manusia yang berada di dalam kandungan. Orang Rote percaya, seorang bayi yang telah berusia 7 bulan telah sempurna secara fisik. Adapun senar yang berjumlah 9 memiliki arti bahwa seorang anak telah siap dilahirkan ke dunia. Sasando di awal kemunculannya di abad ke 7 memang hanya bersenar 7 atau 9 yang dikenal dengan sebutan Sasando Gong.

Sasando Gong, bentuk Sasando era pertama yang mengawali lahir-nya Sasando elektrik yang populer

Tabung sasando beserta rangkaian senar-nya ini diletakan dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas orang Rote menyebutnya dengan Haik. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando, penggunaan daun lontar juga tak lepas dari filosofi hidup orang Rote yang sejak dulu akrab dan bergantung pada pohon lontar atau siwalan (Borassus flabellifer), sejenis palem batang tunggal, tingginya bisa mencapai 30 meter, berbatang kasap, kehitam-hitaman, dengan penebalan sisa pelepah daun di bagian bawah.

Bapak Jeremiah Pah salah seorang legenda pemain dan perajin Sasando yang kini masih setia menghidupkan seni Sasando di Nusa Tenggara Timur

Sasando bagai sebuah manifestasi kehidupan masyarakat pulau Rote yang begitu mencintai dan menyatu dengan tanah dimana mereka hidup. Pulau Rote sendiri merupakan pulau dengan dominasi pohon lontar atau siwalan, bagi mereka pohon lontar adalah simbol kehidupan yang memberikan banyak anugrah bagi siapa saja yang tinggal disekeliling-nya. Hampir tidak ada bagian yang terbuang dari pohon ini semua-nya dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai penyambung hidup, bagi mereka pohon lontar adalah pohon kehidupan yang sangat berharga. Oleh sebab itu anda tak perlu keheranan bila sedang berkunjung ke pulau ini hampir disetiap rumah warga tumbuh pohon lontar.

Peran alat musik tradisional khas Rote ini biasa dimainkan untuk mengiringi nyanyian, menirukan nyanyian, mengiringi pembacaan syair-syair Rote, juga untuk mengiringi tarian, menghibur keluarga yang berduka, dan menghibur keluarga yang sedang mengadakan pesta. Oleh sebab itu alat musik tradisional ini layak disebut sebagai sebuah karya agung yang penuh dengan estetika kehidupan terutama bagi masyarakat pulau Rote.

Seni Memainkan Sasando

Pada zaman dulu, hanya sedikit orang di NTT yang dapat memainkan alat musik Sasando. Hal tersebut dikarenakan Ta’e sasanu atau orang yang memainkan Sasando harus menjalani ritual dan proses khusus. Sekarang, hampir setiap masyarakat di NTT dapat memainkan-nya bahkan yang mempelajari permainan Sasando sudah menyebar di berbagai wilayah di Indonesia pertunjukkan Sasando pun tak hanya sampai dipanggung tanah air tapi sudah merambah diberbagai negara. Sebut saja Bapak Jacob H. Ayub Bullan atau akrab disapa dengan Jack Bullan adalah seorang pemain, pembuat, dan guru alat musik sasando berkat jasa nya alat musik yang dulu nyaris punah ditempat asal-nya kini mulai bersinar dan memukau dunia.

Bersama Bapak Jack Bullan salah satu generasi penerus dan maestro Sasando Indonesia yang telah keliling dunia mengenalkan Sasando

Sasando telah membawa-nya mengelilingi 40 negara, Ia telah bermain sasando sejak berusia 14 tahun kabar-nya menjadi salah satu dari 8 orang pemain Sasando yang masih tersisa. Sebuah keberuntungan bagi sayadapat menyaksikan langsung pertunjukkan panggung Bapak Jack Bullan ini, Ia mampu memainkan banyak lagu baik lagu daerah seperti lagu Bengawan Solo yang sempat saya minta untuk dimainkan dalam pertunjukkan nya, pak Jack pun juga lihai memainkan lagu kekinian hingga lagu manca negara dengan menggunakan Sasando.

Bapak Jack Bullan saat sedang memainkan Sasando dalam sebuah pertunjukkan.

Secara teknis Sasando dimainkan dengan cara dipetik menggunakan kedua tangan, dimainkan menggunakan dua tangan secara berlawanan. Tangan kanan berperan untuk memainkan chord, sedangkan tangan kiri berperan sebagai pengatur melodi dan bas. Dibutuhkan keterampilan khusus untuk memainkan alat musik ini. Saat ini, dengan perkembangan yang demikian pesat sasando tradisional yang dikenal dengan sebutan Sasando Gong justru agak sulit ditemukan, termasuk di Rote yang menjadi tempat lahir-nya. Sasando yang banyak dimainkan dan diperkenalkan keluar Rote hingga ke panggung internasional lebih banyak didominasi oleh sasando elektrik.

Apabila anda sedang berkunjung ke pulau Rote jangan lewatkan momen untuk menyaksikan langsung pertunjukkan syahdu Sasando anda pun dapat mencoba memainkan alat musik tradisional asli Indonesia ini dengan alunan irama yang tak kalah indah dengan alat-alat musik dari luar negeri. Sama seperti Gamelan dan Angklung, Sasando juga sangat membuat bangga Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here