Sejujurnya ini masih menjadi draft dan baru sempat menulis judul nya saja karena tiba-tiba si bayi datang pengen ikut nimbrung walhasil buru-buru nuntup laptop dan ga sengaja keyboard laptop pun tertekan publis, akhirnya terpublis di blog hanya berupa judul tulisan tanpa apa-apa sama sekali ha ha. Tapi meski baru judul ternyata sudah banyak mengundang viewers jadi saya putuskan untuk lanjut menulis saja. Waktu yang saya habiskan bertualang ke dataran tertinggi di Indonesia ini cukup panjang sekitar 8 hari 7 malam, jauh lebih lama dibanding petualangan-petualangan di pulau Jawa lainnya. Banyak sekali yang saya lakukan selama di Dieng ini, memang sebaiknya diceritakan secara runut dan menyeluruh tapi akan sangat panjang jadi saya putuskan untuk bercerta tentang masayarakat Dieng terlebih dahulu karena bagi saya topik humanitarian lebih menarik dibanding destinasi traveling itu sendiri, tanpa mereka sebuah tempat yang indah tidak akan pernah punya riwayat cerita.

Menurut info dari wikipedia.org Dataran Tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dieng memiliki Ketinggian rata-rata sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 12—20 °C di siang hari dan 6—10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas (“embun racun”) karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian. Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.[1] Teori lain menyatakan, nama Dieng berasal dari bahasa Sunda (“di hyang”) karena diperkirakan pada masa pra-Medang(sekitar abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.

Perjalanan menuju Dieng saya mulai seorang diri beberapa hari pasca lebaran di tahun 2013 sekitar akhir Juli sebagai jawaban atas ajakan balik dari teman-teman asli Dieng yang menamai komunitas petualangan nya dengan sebutan Bakal Adventure dimana sebelum nya kami bersama mengeksplorasi pegunungan Jawa Barat selama 1 minggu. Saya berangkat dari Rumah Ibu di Klaten pagi-pagi dengan diantar adik keponakan menggunakan motor menuju terminal Boyolali. Oya biasanya jika saya tertarik ke suatu tempat saya spontan akan berkemas dan berangkat tanpa tahu bagaimana cara menuju kesana semuanya terjadi alami begitu saja diperjalanan yang seperti ini menurut saya lebih membuat hidup perjalanan. Saya hanya cukup bertanya dengan menggunakan kendaraan apa dan selebihnya informasi akan saya peroleh dari orang-orang disekitar saya melalui obrolan yang saya buka di dalam kendaraan, saya selalu punya keyakinan bahwa saya akan sampai dan memang selalu sampai tanpa banyak kendala.

Dari Boyolali saya berhenti di terminal Bawen Semarang untuk menyambung bus menuju Terminal Wonosobo. Bus yang saya tumpangi sangat padat dan tanpa AC, bus-bus lama bisa teman-teman bayangkan sendiri heheu. Tapi syukur semakin menuju Wonosobo penumpang semakin berkurang dan bus terasa lebih lengang dan tidak sumpek karena angin-angin sejuk dari pegunungan cukup berhasil mengusir gerah. Sekitar 2,5 jam perjalanan dari terminal Bawen tibalah saya di terminal Wonosobo yang cukup lengang susasna nya, yang tampak ada beberapa mini bus salah satu nya Dieng Indah rupa nya akan berangkat mengantar penumpang menuju pusat wisata Dieng, selain itu saya juga agak terkejut ya melihat di terminal tersebut terpasang spanduk besar dari Kepolisian setempat yang menghimbau untuk berhati-hati karena wilayah terminal rawan dengan gendam wow sepertinya saya harus lebih waspada karena sendirian namun saya berusaha untuk tidak terlihat takut tergesa dan panik karena tipikal-tipikal seperti ini bakalan jadi inceran pertama para pelaku kejahatan, stay cool stay calm dont panic itu kunci nya, penjahat juga akan mikir berhadapan dengan orang orang seperti ini.

Saya tidak terburu-buru karena kebetulan ada seorang teman kuliah yang juga teman seperguruan bela diri yang tinggal di Wonosobo dan sedang dalam perjalanan menjemput ke terminal, Irfan nama nya. Tidak lama menunggu sekitar 10 menit Irfan datang bersama paman nya mengandarai pick up lengkap dengan alunan dangdut nya wkwkw, wah ga nyangka ternyata seoranag Irfan juga bisa menikmati dangdut (ngakak so hard). Oya saya menyadari bahwa ketika memutuskan bertualang maka segala bayangan kenyamanan akan saya singkirkan menggunakan moda transportasi apapun tidak jadi masalah, bahkan jika tidak ada kendaraan berjalan kaki pun tidak apa-apa saya sering melakukannya. Saya belajar dari Ayah seorang yang sangat menikmati yang namanya berjalan kaki ber kilometer di alam liar, saya juga tipe orang fleksibel dan mudah kompromi tidak terlalu suka memperumit situasi tidak juga kebanyakan syarat.

Sekitar 40 menit perjalanan tibalah saya di kediaman Irfan di desa Kejajar siang menjelang sore, rencananya esok saya akan menemui teman-teman Bakal Adventure di wilayah Dieng Kulon (Dieng barat) atau kata Irfan biasa disebut Dieng Atas yang masuk wilayah administrasi Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara sementara kediaman Irfan adalah wilayah Dieng Wetan (Dieng timur) atau Dieng Bawah yang masuk di wilayah administrasi Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Agenda pertama malam itu sebenarnya Irfan mau mengajak saya ke Alun-Alun Kota bareng beberapa kerabatnya katanya sedang ramai ada pasar malam dan pagelaran musik rangkaian acara peringatan ulang tahun kabubupaten Wonosobo.

Tetapi beberapa saat menjelang berangkat tiba-tiba salah satu teman dari Bakal Adventure Hanif menelpon ternyata sudah ada di depan jalan raya dekat rumah Irfan, dia diminta Lucky ketua BA yang pertama saya kenal dulu sebelum teman-teman BA lain nya untuk menjemput saya menuju Bascamp di Desa Bakal. Hahha berasa FTV deh lol, waktu itu saya bilang pada Hanif akan ke alun-alun dulu besok baru ke Basecamp tapi Lucky bilang ga usah ke alun-alun karena malam ini saya diajak untuk camping di bukit Sikunir untuk hunting golden sunrise nya yang terkenal itu, bareng anak-anak Mapala IAIN Walisongo. Finaly saya gak jadi ke alun-alun dan malah berangkat ke desa Bakal saat itu juga huhu maaf ya Fan udah ngerepotin.

Ketika sampai di basecamp suasana sangat ramai karena Bakal Adventure ini juga melayani guiding pendakian dan wisata, waktu zaman saya dulu masih guiding suka rela kalau sekarang saya rasa sudah komersil karena tidak sedikit juga yang minta di guiding mendaki dan keliling Dieng. Lanjut cerita, saya ga jadi ikut camping di Sikunir karena masih lelah perjalanan seharian dan memilih istirahat di kamar sendirian, salah satu alasan lagi karena hawa nya yang super duper duingiiiiiiiin karena itu pertama kali nya saya menginjakkan kaki di dataran tinggi Dieng dan tepat saat puncak musim panas. Sebenarnya saya sengaja datang di puncak musim panas Dieng karena akan mengejar fenomena  “Embun Upas” itu kita akan menemukan lapisan es di atas seluruh tanaman kaya salju tapi tipis tipis. Embun Upas ini tenyata ga diinginkan lhoh sama masyarakat Dieng yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayur karena bisa menyebabkan gagal panen.

Intensitas sinar matahari yang tinggi dari pagi sampai siang ditambah hawa sangat dingin dan semakin bertambah dingin bahkan sampai 0 derajat celsius saat jelang subuh jadilah banyak daun tanaman yang seolah terbakar dan akhirnya mati setelah embun embun es itu mencair di pagi menjelang siang. Jadi saya faham mengapa wajah-wajah penduduk dataran tinggi itu khas dengan pipi yang merah juga bahkan mencoklat ini karena faktor kontradiksi antara panas nya sinar mata hari dan hawa yang begitu dingin.

Saya sendiri mengalami langsung bagaimana kulit wajah hancur mengelupas di hari ke-8 saat hendak pulang ke Jakarta, sampe harus pake masker saat pulang hahaha. Ini juga yang membuat saya begitu terkesan dengan Dieng bayangkan pas mau shalat subuh mau berwudhu permukaan air di bak mandi sudah membeku membentuk lempengan tipis es betul betul asoy geboy, semalaman saja saya harus memakai 3 lapis sleeping bag dan ini harus berguyar guyur dengan air es untuk wudhu nangis nangis saya di kamar mandi gemetar kedinginan ;D. Sejak saat itu saya menyadari ternyata hawa yang terlampau dingin itu sungguh menyiksa jadi udah hilang tuh bayangan asik nya main salju di negeri 4 musim wkwkwk. Dan jadi mahfum diluar sana musim salju jadi musim yang cukup ditakuti ya karena bikin banyak aktifitas jadi ga nyaman. Pernah baca laporan berita kalau musim salju itu jadi pembunuh pertama para kaum homeless, sedih ya ;(.

Mayoritas Berprofesi Sebagai Petani Sayur

Hari ke 2 di Dieng, karena saya ga jadi ikut camping di bukit Sikunir akhirnya saya diajak ngelihat cara orang Dieng bertani dan sempat ikut manenin wortel seru deh he he. Kalau kalian pernah ke Dieng pasti kalian lihat pola lahan nya berundak karena memang kontur tanah Dieng kan peguungan, jadi lumayan ngos-ngosan karena lahan panen nya nanjak ke atas itu juga saya udah dibantu naik motor karena hayati masih lelah dari perjalanan hahah. Tapi tetep harus jalan mendaki juga, pertama hal unik yang saya lihat adalah para petani Dieng bertani dengan memakai jaket ga seperti yang biasa saya lihat ditempat-tempat lain, lucu sih liat nya padahal matahari nya terik banget tapi hawa nya dingiiiin hembusan angin nya apalagi. Semakin ke atas kadang lahan pertanianya ketutup kabut heheu seru banget, rasanya kaya lagi ada di negeri atas awan pantes aja kalo Dieng di juluki tempat persinggahan para dewa.

Setelah ikut manen wortel saya diajak ikut makan bekal yang dibawa ibu petani anak buah nya mas Joe, kata doi saya harus coba salah satu makanan khas nya Dieng yaitu Tempe Kemul dan kebetulan dibawa sama  si ibu petani, kita makan pake rantang susun jadul itu di bawah gubuk derita eh gubuk peristirahatan maksudnya he he nyam nyam apapun makanan nya kalo lagi laper mah sedap yak apalagi suasana kayak di buku cerita legenda nusantara ;D. Jadilah saya ikut ngurangin jatah bekal nya ibu dan bapak tani maaf ya pak karena sejujurnya saya juga laper belum sarapan dan ibu bapak nya baik banget saya malah suruh ngabisin wkwk ;p.

Nah Tempe Kemul sendiri sebenarnya seperti tempe mendoan cuma istilah sini sebutan nya Tempe Kemul, kemul adalah bahasa jawa artinya selimut jadi tempe berselimut terigu hanya aja tekstur agak lebih keras dibanding tempe mendoan dan kalau ga salah inget adonan tepung nya ditambah irisan tipis daun kunyit. Oya orang Dieng selain makan nasi juga makan nasi juga makan Sego/Nasi Jagung yang dibentuk kotak-kotak padat dan biasanya juga dibawa sebagai bekal ke lahan juga bekal mendaki gunung itu kata teman saya Jhon Lukman yang nanti doi juga salah satu yang dengan rela nemenin saya bertualang ke spot-spot ga biasa nya Dieng alias spot yang masih jarang terjamah wisataan, anak ini nyentrik abis dan kreatif. Nanti akan ada cerita sendiri ya khusus petualangan di Dieng.

Gemar Kopi dan Merokok

Barangkali karena cuaca Dieng yang dingin membuat orang-orang Dieng seneng banget yang namanya ngopi dan merokok biasanya dipagi hari atau malam hari. Ini temen saya anak BA semua nya merokok ga ada yang enggak, tapi sejujurnya ini membuat saya kurang nyaman sempat iseng rokok teman saya Mas Chika saya ambil dari kemasanya yang masih baru dan hanya saya sisakan sebatang, niatnya mau saya buang malah kesimpen di jaket eh pas jaket saya titip ke jhon lukman dia nemuin banyak rokok melempem di kantong jaket dia kaget di kira nya saya perokok yang diem diem. Kesan dia katanya saya anak alim tapi kok merokok ha hahah, maaf jhon itu tak seperti kelihatanya aku bisa jelaskan ;p. Gara gara kejadian itu saya jadi bikin pengakuan dosa sama mas Chika kalau rokok nya saya ambil mau dibuang, dia bilang pantesan kok rokok baru tinggal sebatang dan saya balikan lah tuh rokok2 melempem tadi ke mas chika, dia malah ketawa katanya rokok melempem ga enak jadi dibuang aja, yes misi berhasil wkwkw (ngeselin ya saya ). Selain itu selera musik nya orang Dieng itu Dangdut sumpah selama 8 hari 7 disana saya selalu denger dangdut koplo berkumandang dimana mana pas lagi jaman hits nya “tutupen botol mu tutupen oplosan mu la la itu” sampe apal saya ha ha.

Punya Selera Humor Yang Asik

Nah biasanya nih kalo lagi ngopi gini rame-rame dan bahas apa aja yang ujung-ujung pasti ndagel, selama disana setiap hari ga bisa kalau ga ketawa ini berdasarkan apa yang saya alami jadi bisa aja subjektif untuk yang lain. Saya juga ga ngerti apa ada korelasi nya antara daerah tinggal yang berhawa dingin dan diatas ketinggian dengan karakter lucu ini rasanya perlu nih anak-anak sosek dan psikologi menjadikan ini bahan penelitian ;D.

Huruf Y Berlafal Z

Satu lagi yang lucu, orang Dieng akan merubah lafal huruf Y menjadi Z, makanya ada istilah  orang Dieng/Diyeng juga dipanggil dengan sebutan “Wong Ndizeng” ha ha. Saya ada cerita lucu nih dari temen saya juga asli Dieng tapi bukan anak BA namanya mas Silo, kayaknya jadi punya temen banyak ya saya di Dieng ini wkwk alhamdulillah jadi punya banyak saudara dan kampung halaman baru buat mampir mampir lagi. Nah doi kasih lelucon tentang huruf Z itu katanya “ eh Lu’ wong ndizeng nek puzing puzing bakal mlazu mlazu ngasi kepuzuh puzuh “ kurang lebih gitu sih ga usah di artiin ya disensor titt, tapi yang orang Jawa pasti ngerti ;D.

Oya jangan kaget ya orang Dieng kalau ngobrol sesama nya ebuseett cepeeeet banget merepet kayak kereta yang kedengaran sama kuping saya cuma “blukutak blukutuk mazo mazo lha kiyek lha kuwek sira kayak telo mbongkeng ” lol ;D secara saya dari Surakarta yang kalo bicara perlahan jadi agak kaget gitu tapi saya terhibur banget kalau denger mereka lagi ngobrol tuh kayak nya asik banget kayak lagi makan kacang sama kwaci kwkwwk.

Dapur Menjadi Ruang Bersosialisasi

Selama di Dieng ada saja saya dibuat mengetahui kebiasaan baru yang unik, salah satu nya saat di hari ke 3 saya memi;ih untuk menginap di rumah sepupu perempuan nya Jhon Lukman  karena jadi lebih leluasa. Pertama kali saya diperkenalkan Jhon Lukman dengan dek Zuhrotun yang akhirnya malah jadi temen ngobrol dan curhat wkwk padahal juga baru kenal, keluarga nya Jhon Luk ini ramah-ramah banget. Oya yang bikin heran pas awal masuk rumah saya malah diantar ke dapur didekat perapian sama sekali ga nyentuh ruang tamu. Saya mikir dapur kan cukup jadi privasi dalam rumah ya kok saya langsung diminta masuk ke dapur (GR ceritanya) ternyata oh ternyata memang sudah jadi tradisi orang Dieng menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman didapur bersama satu alat penghangat khas Dieng yang disebut Anglo. Alat penghangat ini lebih femes dan digemari masyarakat Dieng dibanding Blackpink atau Super Junior, jangan heran kalo Anglo ini dibawa juga sampe kepuncak gunung, kata temen BA Anglo udah jadi separuh jiwa nya orang Ndizeng heheu.

Ada satu kejadian yang bikin saya terharu banget berhubungan dengan Anglo ini. Di hari terakhir saya di Dieng ceritanya mau pamitan ketemen temen BA di basecamp dan sempet mampir ke kamar mandi nya sebentar buat wudhu jadi basahlah sendal out door yang saya pakai. Setelah pamit dari BA saya kembali ke rumah Zuhrotun juga untuk pamit dan mengambil tas Carrier di kamar, saya juga jadi ikut terbiasa ketika masuk rumah pasti lewat dapur bukan lewat depan didapur lagi ada Bapak nya Zuhrotun lagi motong-motong kayu bakar. Saya permisi lewat untuk sholat dan berkemas ulang, saat udah selasai saya menuju dapur karena disitulah rupanya keluarga Zuhrotun sedang berkumpul, di pintu saya celingak celinguk nyari sendal outdoor kemana gerangan enyah nya.

Kesana kemari (mencari alamat palsu ;D) saya ga lihat batang hidung si sendal akhirya bertanya sama keluarga nya Zuhrotun yang lagi berkumpul didampur apakah tahu dimana sendal outdoor nya. Dan Bapak Zuhrotun yang pertama jawab “ ini sendal nya lagi bapak keringin di deket Anglo, biar kamu pulang ke Jakarta sendal nya gak basah-basah nanti dingin di bus” ternyata Bapak Zuhrotun lagi megang dan ngipas-ngipasin sendal outdoor saya dideket anglo supaya cepet kering. Disitu saya merasa terharu banget sebegitunya saya dihargai disana ;’). Secepat kilat saya langsung menghampiri Bapak Zuhrotun “ Bapak ga usah, saya udah biasa pake sendal basah” ga pa pa ini udah lumayan kering yang satu, tinggal satu nya lagi tunggu bapak keringin dulu” disitu bingung saya harus ngomong apa selain nurutin mau nya bapak Zuhrotun, bapak nya Zuhrotun yang terlalu baik tapi saya nya yang jadi merasa ga sopan tapi gimana huhu dilema ;”(

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here