Generasi yang  berkualitas, sehat, cerdas dan produktif merupakan pilar utama dalam menyokong keberhasilan pembangunan sebuah bangsa. Betapapun melimpah nya sumber daya alam yang ada tidak akan mampu menopang keberhasilan pembangunan sebuah bangsa bila tidak diiringi oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Juga dalam menghadapi kuat nya persaingan global perlu sekali dukungan sumber daya manusia mumpuni yang mampu terus produktif melahirkan inovasi-inovasi mutakhir agar dapat turut serta dalam menjawab permasalahan dan tantangan zaman sehingga keberadaan Indonesia juga layak diperhitungkan dalam percaturan dunia.

Sumber: www.rbc-sinergi.org

Namun saat ini kita patut prihatin dengan kondisi tumbuh kembang generasi penerus Indonesia, demi melihat hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas 2013) terhitung hampir 9 Juta atau sekitar 37 % anak balita di Indonesia mengalami stunting. Nilai ini masih jauh dari standar baku prevalensi yang diterapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni sebesar 20 %. Menurut WHO Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan (gizi buruk dalam waktu lama yang mengakibatkan gagal tumbuh). Keadaan ini dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan standar pertumbuhan baku. Atas dasar ini lah WHO menempatkan Indonesia dalam posisi ke-5, negara dengan penderita gagal tumbuh (stunting) terbanyak.

Sumber: www.beritagar.id

Sementara menurut keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SkxII/2010 tentang standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Balita pendek (stunting) dapat diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang dan tinggi badan-nya, lalu dibandingkan dengan standar  baku WHO (Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005 dan hasilnya berada di bawah normal, nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD) dan dikategorikan sangat pendek bila z-score nya kurang dari -3 standar deviasi.

Sumber:www.depkes.go.id

Menurut Dr. Damayanti RusliS S SpAK Phd yang juga merupakan anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI mengatakan, faktor utama tinggi-nya masalah stunting di Indonesia adalah buruk-nya asupan gizi sejak bayi masih dalam kandungan (fase kehamilan), bayi baru lahir sampai berusia 2 tahun. Kekurangan gizi pada 2 tahun pertama dapat mengakibatkan kerusakan otak yang tidak lagi dapat diperbaiki (kerusakan otak permanen). Sehinga investasi gizi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) merupakan kewajiban bagi orang tua yang tidak bisa ditawar. Beliau juga menambahkan bahwa permasalahan gizi tidak hanya akan mengganggu perkembangan fisik dan kesehatan anak tapi lebih jauh lagi akan memicu timbulnya masalah baru yakni kemiskinan. Pertumbahan otak anak yang kurang gizi akan tidak optimal sehingga berpengaruh pada kecerdasan-nya di masa depan, dengan demikian peluang kerja dan mendapatkan penghasilan lebih bakal lebih kecil pada anak stunting.

Berdasarkan catatan Bappenas, permasalahan gizi buruk menyebar ke dalam berbagai wilayah dan lintas kelompok pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa stunting tidak hanya dialami oleh masyarakat menengah bawah namun juga kelompok masyarakat menengah atas.  Pemahaman yang salah mengenai kebutuhan nutrisi pada anak dapat menjadi salah satu faktor penyebab-nya. Minim-nya wawasan yang dimiliki baik ibu maupun calon ibu mengenai penting nya pemberian ASI eksklusif dan pangan bergizi bagi bayi dan anak-anak menjadi faktor utama rendah-nya kesadaran terhadap bahaya stunting.

Sumber: www.gizi.depkes.go.id

Secara lengkap Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TN2PK) dalam buku-nya yang berjudul 100 Kabupaten/Kota Prioritas Untuk  Intervensi Anak Kerdil (Stunting)  merangkum  unsur-unsur utama yang menyebabkan tinggi-nya kejadian stunting di Indonesia.

    1. Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurang-nya pengetahuan ibu dan calon ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Beberapa fakta dan informasi yang ada menunjukkan bahwa 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI diberikan/mulai diperkenalkan ketika balita berusia diatas 6 bulan. Selain berfungsi untuk mengenalkan jenis makanan baru pada bayi, MP- ASI juga dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh bayi yang tidak lagi dapat disokong oleh ASI, serta membentuk daya tahan tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak terhadap makanan maupun minuman.

  1. Masih terbatasnya layanan kesehatan, termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan) Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. Informasi yang dikumpulkan dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia menyatakan bahwa tingkat kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013 dan anak belum mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi. Fakta lain adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi sumplemen zat besi yang memadai serta masih terbatasnya  akses ke layanan pembelajaran dini yang berkualitas (baru 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun belum terdaftar di layanan PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini). 

  1. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. Hal ini dikarenakan harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal. Menurut beberapa sumber (RISKESDAS 2013, SDKI 2012, SUSENAS), komoditas makanan di Jakarta 94% lebih mahal dibanding dengan di New Delhi, India. Harga buah dan sayuran di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. Terbatasnya akses ke makanan bergizi di Indonesia juga dicatat telah berkontribusi pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia.

  1. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air besar (BAB) diruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih. Kesadaran masyarakat yang kurang terhadap sanitasi lingkungan yang menjadi tempat beraktifitas anak perlu kita soroti lebih dalam sebab meski anak sudah mendapatkan ASI Eksklusif dan makanan bergizi, lingkungan dengan sanitasi buruk dapat mentransfer kuman dan penyakit masuk ke dalam tubuh (infeksi) yang dapat mengganggu bahkan merusak metabolisme tubuh. Semakin sering anak mengalami infeksi akan menghambat proses terserap-nya zat-zat gizi penting ke dalam tubuh sehingga proses pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya pun menjadi lambat bahkan gagal (stunting).

Sumber:www.indonesiabaik.id

Beberapa penyebab seperti yang dijelaskan di atas, telah berkontribusi pada masih tingginya prevalensi stunting di Indonesia dan oleh karenanya pemerintah melalui Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TN2PK) berkomitmen untuk melakukan rencana intervensi yang menyeluruh agar dapat segera mengurangi prevalensi stunting di Indonesia. Mengapa permasalahan stunting ini menjadi demikian penting untuk kita bahas bersama karena stunting memiliki bahaya jangka panjang yang dapat mengancam masa depan bangsa. Balita dengan stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, dalam perjalanan tumbuh kembang-nya ia juga akan lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas, hal ini dikhawatirkan Indonesia akan didominasi oleh sumber daya manusia yang kurang berkualitas dan tidak kompetitif.

Kondisi ini akan relevan dengan bukti internasional yang dihimpun oleh Bank Dunia, bahwa stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Products) serta mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%. Selain itu, stunting juga dapat berkontribusi pada melebarnya kesenjangan sosial/inequality, sehingga mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antar-generasi. Tinggi nya prevalensi stunting bukan lagi menjadi tanggung jawab satu pihak namun juga kerja sama dari berbagai stakeholder dan masyarakat dalam mewujudkan Indonesia Sehat bebas stunting.

Gejala Stunting

Beberapa gejala stunting yang paling mudah diketahui adalah.

  1. Pertumbuhan fisik melambat terutama pada usia dibawah 2 tahun, merupakan gejala awal sekaligus makna dari stunting itu sendiri hal ini dapat dilihat dari perawakan tubuh yang jauh lebih pendek dibanding teman seusia-nya. Namun dalam masyarakat ada pemahaman kurang tepat mengenai anak sehat, penilaian yang mereka gunakan hanyalah nilai berat badan dimana semakin berat semakin sehat. Padahal kriteria yang tepat adalah dengan membandingkan antara tinggi badan dan berat badan. Anak yang berat badan nya besar namun terhitung pendek atau sangat pendek dibanding teman seusianya sangat dimungkinkan mengalami stunting, kondisi yang tampak sesungguh-nya bukanlah sehat namun telah mengalami obesitas. Bila gejala ini lambat disadari serta tidak mendapatkan penangan yang cepat dan tepat maka akan sangat merugikan karena stunting tidak lagi dapat diatasi lagi kedepan-nya. Gejala awal stunting ini dapat diketahui dari berat badan bayi yang sulit naik dan mudah sekali terserang infeksi.

  2. Anak lebih pendiam, di usia 8 hingga 10 tahun anak dengan gejala stunting akan menunjukkan ekspresi yang lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata. Hal ini disebabkan oleh mekanisme tubuh yang berusaha menghemat energi yang memang sudah dalam jumlah terbatas akibat kurang gizi yang kronik.

  3. Pertumbuhan gigi terlambat, salah satu mineral penting yang mendukung proses pertumbuhan adalah kalsium dan zat besi, defesiensi terhadap mineral tersebut dapat membuat pertumbuhan gigi dan tulang terhambat juga dapat menyebabkan tanda pubertas terlambat pada anak perempuan.

  4. Performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar, kurang-nya nutrisi yang kronis pada anak dapat menyebabkan kemampuan konsentrasi belajar dan mengingat menurun hal ini disebabkan sel-sel saraf pada otak kekurangan suplai nutrisi sehingga otak tidak berkembang dan berfungsi dengan optimal.

  5. Wajah lebih muda dari usia-nya, gejala ini sangat mudah dikenali namun disisi lain ia juga sulit dicegah karena waktu kemunculan-nya yang cenderung lambat oleh karena-nya ini dapat menjadi gejala akhir dari

Pencegahan Stunting

            Meskipun berbahaya namun stunting dapat dicegah sebelum terlambat dengan cara cepat mengatasi gejalanya, sebagaimana anjuran dari Depertemen Kesehatan dan para pakar gizi.

  1. Kehamilan cukup gizi, bagi wanita sebisa mungkin menjaga asupan makanan yang cukup untuk tubuh-nya saat remaja sampai memasuki fase kehamilan dan menyusui. Karena faktanya gejala stunting sudah dapat terjadi sejak janin dalam kandungan dari ibu yang juga tidak bisa menjaga asupan gizi nya dengan baik. Wanita yang kurang gizi memiliki potensi kuat untuk melahirkan anak-anak stunting Oleh karena itu makro nutrisi seperti protein, lemak, karbohidrat beserta vitamin dan mineral sebaiknya dikonsumsi dengan cukup dan seimbang, suplemen penunjang juga dapat dikonsumsi bila ibu dalam kondisi kurang fit. Selain itu orang tua juga harus memahami pola pengasuhan yang baik terutama berkaitan dengan pemenuhan nutrisi bagi anak pada 1000 hari pertama kehidupan-nya dan penting-nya memahami praktik higien dalam keseharian. Langkah berikutnya adalah disiplin dalam mengukur tinggi dan berat badan anak di Posyandu, hal ini akan cepat membantu mendetekasi anak mengalami gejala stunting.

  2. Dukungan menyusui, proses menyusui juga menjadi salah satu fase yang berat bagi wanita selain mengandung dan melahirkan karenanya sangat diperlukan dukungan dari pihak keluarga dan orang-orang terdekat untuk meyakinkan mereka dapat memberikan ASI Ekslusif untuk bayi-bayi nya serta mencukupi gizi nya selama masa menyusui berlangsung.  Berdasarkan banyak hasil riset, anak-anak stunting sangat dipengaruhi oleh tidak tercapainya ASI Eksklusif dimana ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung nutrisi yang sempurna sekaligus antibodi, anti virus, anti parasit, anti alergi kuat yang mampu menambah ketahanan tubuh bayi dari ancaman infeksi dan penyakit-penyakit degeneratif di masa kehidupanya mendatang.

  3. Dukungan masyarakat, salah satu pemicu stunting adalah sering-nya anak mengalami infeksi disebabkan faktor sulitnya akses ke air bersih dan permasalahan sanitasi oleh sebab itu dukungan dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk dapat menciptakan suasana lingkungan yang bersih dan cukup air serta pemahaman mengenai praktik higienitas dalam keseharian.

 

Perlindungan Imunisasi

Penderita stunting sangat rentan terhadap infeksi kuman penyakit, peningkatan imunitas yang yang ditambahkan dari luar ke dalam tubuh menjadi sangat dibutuhkan. Oleh sebab itu negara melalui Kementrian Kesehatan menggalakan program imunisasi secara serentak dan berkala dengan salah satu tujuan untuk mencegah anak-anak dari infeksi kuman penyakit yang menular. Imunisasi sendiri merupakan program pencegahan penyakit menular yang diterapkan dengan memberikan vaksin sehingga subjek tersebut resisten atau tahan terhadap penyakit tersebut. Berdasarkan data di lapangan imunisasi terbukti efektif dalam mencegah peningkatan kejadian stunting.

Imunisasi dimulai sejak usia bayi hingga masuk usia sekolah, melalui program ini anak-anak akan diberikan vaksin yang mengandung jenis-jenis bakteri dan virus tertentu yang sudah dilemahkan untuk merangsang sistem imun dalam tubuh untuk membentuk antibodi  memberikan perlindungan dari ancaman penyakit yang sebabkan oleh bakteri dan virus tersebut di masa mendatang. Selain itu imunisasi juga bermanfaat untuk mencegah terjadi-nya kecacatan dan kematian akibat serangan penyakit.

Jenis Vaksin Imunisasi Dan Jadwal Pemberian-nya

Ada pun jenis imunisasi yang dianjurkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) antara lain:

Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak, Hib, PCV, Rotavirus, Influenza, MR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela dan HPV. Jadwal pemberian imunisasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Sebagai orang tua dan warga negara Indonesia yang baik sudah semestinya kita peduli dengan tumbuh kembang anak, selalu menambah wawasan mengenai pola asuh dan tanggap menyadari keganjilan yang terjadi pada anak adalah langkah tepat untuk mencegah terjadi-nya hal-hal yang dapat mengancam keselamatan hidup-nya seperti permasalahan stunting ini. Disiplin melakukan imunisasi juga menjadi langkah konkret bagi kita untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga. Hal ini juga akan membantu mengefektifkan program-progam pemerintah dalam mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa.

Sumber:

Tulisan ini diikutsertakan dalam : Kompetisi Media Sosial Kementrian Kesehatan 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here