Cerita kali ini agak beda aku tidak memaksa kalian untuk percaya tapi sejujur-nya aku benar-benar mengalami-nya dalam keadaan kesadaran yang sangat terkontrol. Tak hanya sekali tapi berkali – kali sampai akhir-nya aku merasa hari-hari ku mulai tak tenang lalu kuputuskan untuk pergi berkonsultasi pada seorang ustad dan menceritakan semua tentang yang aku rasakan bahwa hidup ku mulai tak nyaman, aku ingin tidak usah lagi melihat yang aneh-aneh tapi ustad tersebut tidak bisa membantu, beliau hanya berujar bahwa aku diberi kelebihan Tuhan untuk merasakan dimensi lain jadi berdoalah pada Tuhan untuk mencabut kelebihan itu namun ketika kelebihan itu hilang kamu akan jadi orang biasa lagi, atau pilihan lain yang lebih bijaksana adalah menerima nya dan mulai mebiasakan diri, ha ha entahlah aku sedang berkonsultasi pada ustad yang tepat atau tidak tapi memang begitu ucapan nya dulu 😄

Hal seperti ini di mulai sejak aku kelas 1 SMP hingga sekarang aku hampir menginjak usia 30 tahun, 5 tahun pertama aku masih terkaget-kaget tapi lama lama sudah terbiasa semenjak aku memutuskan melawan rasa takut dengan mencoba mendaki gunung sendiri, dimana hutan dan gunung adalah beberapa tempat yang biasa mereka tinggali.

Tapi kejadian ini bukan terjadi di gunung tapi saat aku masih berkuliah di salah satu PTN di Bogor tempat dimana aku berkuliah. Taahun 2006 aku masuk sebagai mahasiswa baru, kami diwajibkan tinggal di asrama selama 1 tahun untuk menjalani persiapan mentukan jurusan, mendapat kamar nomor 270 di gedung A2 lorong terakhir di lantai 2, aku mendapat 3 rekan se-kamar dari Medan, Riau dan Rembang sementara aku dari Jakarta.

Tiap pergantian semester tentunya akan ada libur yang cukup panjang yang membuat 3 gedung besar asrama mahasiswa baru ini menjadi nyaris kosong melompong karena banyak mahasiswa yang pulang kampung terutama mahasiswa jabodetabek, tiap lorong di asrama mungkin jumlah penghuni nya hanya hitungan jari bisa ditebak siapa mereka, pasti yang asal nya dari wilayah terjauh di Indonesia ini, aceh, medan, sulawesi, papua, nusa tenggara, kalimantan dan sebagai-nya.

Salah satu rekan sekamar ku asal medan yang memang jarang pulang kampung namanya Pebri sampe aku menyebutnya kuncen asrama 😂 , dia lebih muda dari ku tapi seperti kakak saja dan aku adalah orang yang paling suka menjahili nya maaf ya kak empi, besok akan ku ulangi menjahili mu kalau jumpa lagi karena itu adalah sebuah kewajiban 😂.

Kamar ku ada di bagian belakang asrama yang jendela nya menghadap lapangan jemuran yang cukup luas yang langsung berbatasan dengan persawahan seingat ku. Aku lupa hari apa kejadian malam itu, aku sengaja ingin kembali ke asrama karena dirumah hati ku tak tenang, kakak asdos memberi banyak sekali tugas membuat laporan praktikum aku tak ingin liburan ku penuh beban 😂 aku memutuskan kembali ke asrama dan berniat menginap semalam atau dua malam untuk merapel 3 laporan praktikum lalu pulang ke Jakarta.

Gambar 1. Penampakan lapangan jemuran asrama ( Foto : Afina F )

Pagi jelang siang aku tiba di asrama sesuai dugaan ku suasana terlihat lengang dan senyap bahkan suara langkah kaki ku menjadi terdengar begitu jelas dan menggema. Kami masing-masing di bekali kunci kamar, tiba di depan pintu aku memasukan kunci kuputar kunci tapi terganjal berati ada orang di dalam ternyata ada teman ku pebri yang sedang bobok cantik 😂.

Aku bergegas mengeluarkan semua alat tulis dan buku perlahan kukerjakan tak terasa sudah pukul 3 sore baru 1 laporan selesai, aku putuskan ber-istirahat untuk shalat dan mencari makanan. Karena kantin asrama tutup aku harus pergi keluar kampus ku ajak pebri untuk ikut ia pun mengangguk setuju. Sehabis ashar sekitar pukul 4 sore kami berangkat untuk beli makanan dengan berjalan kaki saja kumayan juga jarak nya bikin rasa lapar semakin menjadi, sampai di rumah makan padang Bundo langganan kami, hajat makan segera kami tunaikan.

Tak berlama-lama karena laporan ku belum selesai kami bergegas pulang karena hari semakin gelap, adzan kurasa sebentar lagi berkumandang. tepat sekali menjelang azan kami tiba di muka asrama, ah suasana nya semakin malam semakin wakwaw saja ku senggol pebri.

“Peb asrama sepi banget ya kok agak agak spooky gimana gitu rasanya, kau disini tiap hari begini ga bosan peb” kata ku sambil bergidik.

“Bosan lah, tapi ga tiap hari aku disini Lu’ kadang aku nginep di kosan kakak kelas”

“Haha baguslah, bisa mati kesepian kau disini tiap hari” seloroh ku 😄.

Sambil berjalan kami ngobrol hingga tiba di kamar, dan bergegas untuk mandi selanjutnya sembahyang maghrib berjamaah. Setelah nya kami sibuk masing-masing. Aku melanjutkan lagi menyelesaikan laporan ke-2 begitu khusyuknya sampai-sampai tak sadar sudah menjelang setengah 12 malam, lelah juga badan walaupun mata masih on efek dari minum kopi, laporan terakhir baru dapat setengah ah lanjutkan besok saja.

Aku segera berbenah meja belajar dan bersiap untuk sholat isya sebelum tidur, aku keluar kamar menuju kamar mandi yang posisi nya dekat dengan kamar ku wah lorong sepi sekali, kamar mandi apalagi. Tak mau berlama – lama di kamar mandi aku langsung cabut ke kamar shalat lalu bersiap tidur.

Kebetulan aku dan pebri dapat tempat tidur atas dan kasur-kasur dibawah kami sudah di gulung semua. Pebri udah tidur dari kapan tahu ini anak kalo tidur udah kaya di planet Namex aja, ngebangkong dengan khusyuk tak ada yang bisa ganggu tidur nya meski bom atom meledak disamping nya (lebay biarin).

Aku menengok jam di hp, sudah pukul 00.20 WIB cepat nya waktu berlalu, kumatikan lampu dan naik ke peraduan, ku tarik selimut dan mulai berusaha untuk tidur. Miring kiri miring kanan bah aku masih tak bisa memejam mata. Ku tatap langit langit kamar membayangkan seribu kambing dan mencoba menghitung nya seperti yang di lakukan Mr.Bean tiba-tiba dari kejauhan aku mendengar seperti suara ringkik dan tapal kaki kuda berlari tak hanya seekor kutaksir bisa puluhan ekor, suara nya semakin mendekat mata ku langsung melotot “gila siapa maenan kuda jam segini” aku langsung terkesiap ketika muncul lagi suara lain seperti sekumpulan orang yang berhamburan berteriak-teriak, lalu muncul lagi suara bayi-bayi menangis, lalu suara perempuan yang berteriak-berteriak sambil menangis seperti dianiaya seorang pria. Pada detik ini jantungku langsung mau copot badan ku seperti terpantek di kasur tak bisa bergerak dalam kekagetan yang sangat ada rasa penasaran yang tinggi aku ingin turun dan mengintip di balik tirai jendela kamar apa gerangan yang terjadi di lapangan jemuran itu.

Ah tapi niat itu aku urungkan segera aku khawatir daripada aku malah pingsan jika tiba-tiba ada sesuatu yang memang sengaja sudah menungguku dibalik tirai jendela. Tapi suara itu tak juga hilang dan makin menjadi jadi saja haduh gimana ini, aku takut tapi juga penasaran aku berusaha membangunkan pebri aku panggil-panggil namanya berkali-kali tak ada jawaban, aku hampiri dia ku senggol-senggol badan nya tak juga bangun, pebri kaya kena sirep aja bener-bener kaya orang pingsan.

“Peb, peb bangun, peb pebri banguuuun, ya Allah peb susah banget di bangunin, peb kamu kenapa sihhhh tidur macam kebo gini, akkkkkk rasanya waktu itu nano nano sekali mau keluar kamar hah malah nanti juga ada yang udah nunggu didepan pintu “ohhh what the hell” 😭😭😭. Ga ada pilihan aku balik lagi ke kasur kutarik selimut menutupi semua badan hingga kepalaku, dengan bantal aku menutup telinga ku sekencang nya sambil terus merapal doa, sial nya itu suara-suara masih tak berhenti juga bah bisa mati shock aku di atas kasur ini, hampir hampir menangis sambil masih menutup kuping akhirnya aku tertidur juga, tidur paling tidak nyaman yang pernah aku rasakan.

Jika aku bisa menggambarkan situasi di jemuran itu seperti sinetron kolosal angling darma, mahabarata dan semacam nya saat penguasa dan para antek-antek nya datang bergeronbolan dengan kuda dan mendatangi pasar atau keramaian yang dipenuhi oleh pribumi dan memaksa meminta upeti dan melakukan kekerasan pada yang ingin melawan seperti diorama yang pernah aku lihat di museum yang ada di Monas, entahlah ngeri saja waktu itu.

Dalam ketakutan aku tertidur dan bangun karena mendengar alarm. Subuh berbunyi, aku bangkit dari tidur dengan masih mengingat kejadian beberapa jam lalu langsung kubangunkan lagi pebri dan alhamdulillah kali ini dia bangun 🤤

Aku ceritakan apa yang aku alami dini hari tadi dan dia hanya bengong dan bilang “Aku ngantuk berat Lu” sambil nyengir. Sehabis Subuh aku siap siap ingin cabut dari asrama masalah laporan ah bawa pulang aja daripada kejadian lagi kayak semalam. Aku pamit sama Pebri dan berpesan kalo ga berani tidur sendiri nginep di kamar lain aja, akhirnya Pebri berencana nginap di kamar lain.

Karena kesibukan kuliah aku tak sempat bercerita kepada siapapun sampai akhirnya 3 tahun setelah kejadian aku bertemu kawan lain jurusan dan menginap di kosan nya, ia bersama seorang teman sedang mengobrol tentang adik kelas di asrama kami dulu, dia bercerita kalau di komplek asrama putri kami setiap tanggal 1 Suro asrama pada tengah malah akan di datangi pawai pasukan kavaleri (berkuda) belanda mereka akan mengililingi komplek asrama beberapa waktu lalu menghilang!

Penasaran dengan cerita itu aku sengaja jalan-jalan ke pemukiman sekitar kampus dan mencari orang-orang tua, kakek dan nenek barangkali ada yang tahu tentang riwayat itu. Beruntung aku bertemu seorang nenek yang sudah cukup tua tapi masih lumayan lancar berbicara hanya saja ia berbicara dengan bahasa sunda yang membuat ku harus berkonsentrasi penuh untuk memahami nya. Ia bercerita bahwa asrama kami dulu nya adalah hutan jalur pemberontak yang melawan penjajah belanda, pasukan belanda sering mengejar mereka dan mengeksekusinya di areal itu atau sebaliknya pasukan belanda yang terbunuh oleh para pemberontak disitu.

Dari informasi lain aku mendengar entah benar atau tidak bahwa salah satu gedung asrama ada yang dibangun di atas tanah kuburan. Asrama mahasiswa baru kami sebelum ditambah bangunan baru Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) ada 2 jenis gedung yaitu gedung A (1, 2,3) dan C (1,2,3) tidak ada gedung B, karena gedung ini menurut kabar yang santer beredar pernah dibangun yang tak lama ditempati lalu terbakar yaitu asrama yang dibangun di atas tanah kuburan itu.

Dari kedua teman ini akhirnya aku mendapat ceritera banyak tentang asrama yang ceritanya wahahahaha lah pokok nya 😅👻. Tapi kejadian yang aku alami ini menjadi pengingat ku untuk lebih hati-hati dalam berperilaku karena aku percaya bahwa ada makhluk lain yang mendiami bumi ini selain makhluk kasat mata yang selalu mencuri curi kesempatan untuk membisiki hal-hal yang tidak baik bagi manusia. Dari banyak kejadian aku semakin meyakini bahwa aku tak bisa jauh dari memohon perlindungan Tuhan.

Cerita ini aku tulis hanya untuk pengingat diri sendiri saja karena dimana pun kita berada segala nya memiliki potensi yang sama untuk terjadi tak hanya di asrama ku tapi juga di tempat-tempat lain. Dan sebagai alumni dari kampus ini aku menyarankan untuk tak perlu takut tinggal di asrama karena dimanapun kejadian seperti ini selalu saja ada jika memang manusia sengaja menyediakan tempat nya. Ini hanya sebagian kenangan ku selama tinggal di asrama tentu banyak juga kenangan lain yang seru dan asik bareng kawan kawan satu angkatan di sini seperti Welcome Party, Ngalong ( Ngaji Lorong ), Farewell Party dan banyak lagi. ingat ini berasa muda lagi pengen jadi mahasiswa baru lagi yang masih lugu unyu-unyu 😂.

Btw, makasih ya gaes udah mau baca cerita-ku yang panjang kaya gerbong kereta ini, apa ada juga yang punya pengalaman mistis gini kaya aku?

*catatan kaki

Gambar bukan ilustrasi di ambil dari sumber www.wikiwand.com dan www.korpusIPB.com