Jum’at berkah, lihat ini jadi rindu kampung halaman tempat main di masa kecil sebelum takdir membawa ku tinggal di Ibukota. Disini tempat mbah canggah, buyut, kakek, nenek, ibuk dan keluarga besar berasal lingkunganya sangat asri dan tanah nya penuh dengan mata air, tempat padi terbaik se Indonesia tumbuh, Padi Rojolele.

Di dominasi oleh persawahan dan mata air wilayah kampung ku ini sekarang dikenal dengan desa Minapolitan karena para penduduk nya selain mengolah lahan untuk persawahan juga membudidayakan ikan air tawar dan rumah pemancingan yang berderet rapi dan apik, tak ayal ini menjadi magnet tersendiri bagi desa ku untuk membuat wisatawan berduyun duyun datang kesini

Selepas bermain dan mandi di pemandian yang bersumber dari mata air datanglah rasa lapar kemudian segera masuk ke rumah pemancingan dengan bermacam menu ikan yang sedap rasa nya, menjadi paket lengkap dan nikmat untuk mengisi waktu liburan bersam keluarga di akhir pekan.

Desa ku bernama Janti bagian dari wilayah kabupaten Klaten termasuk kedalaman wilayah karesidenan Surakarta yang berada di antara gunung Merapi Merbabu dan Lawu sungguh indah pemandangan di kala pagi dan senja.

Terletak diantara pegunungan menjadi mahfum jika dari desaku ini keluar banyak mata air, bahkan perusahaan air terbesar dan tertua di Indonesia mengambil air untuk memproduksi air mineral dari sini, jadi ya air mineral kemasan yang beredar di sebagian besar Indonesia dan yang kalian minum ya sumber nya berasal dari wilayah pedesaan ku.

Oya kami juga terbiasa melakukan shalat idul fitri, idul adha disini sejak nenek kakek buyut kami di lapangan Janti Cokro dengan panorama gunung Merapi dan Merbabu.

Selain itu kampung halaman ku juga bertetangga dengan Desa Wangen yang di gunakan sebagai latar film “Ketika Cinta Bertasbih” (KCB) yang sempat booming beberapa tahun lalu, desa ini juga tempat kakek nenek ku dan keluarga besar berasal.

Kalian tentu tahu kan wisata air yang sekarang sedang hits di Indonesia, Wisata Umbul Ponggok? Desa Ponggok juga jajaran desa-desa yang mengitari kampung halaman ku, semua mata air yang berada di wilayah ini adalah tempat main masa kecil kami.

Kapan pun kami bisa keluar masuk seluruh mata air itu untuk bermain dan berenang, tapi kali ini tidak segala nya sudah penuh retribusi, dan pengelolaan sampah sepertinya kurang bekerja diwilayah ini dan di akhir pekan sudah penuh dengan kendaraan dari berbagai kota, macet itu sungguh terjadi disini, aku hanya berharap pemerintah daerah tak hanya peduli terhadap pengembangan sektor wisata tapi juga pengelolaan sampah karena kian hari wisatawan yang berdatangan semakin membludak yang aku pastikan mereka meninggalkan banyak sampah.

Aku hanya khawatir sampah sampah itu akan mencemari sumber air minum kami. Jika masalah ini tidak secara serius menjadi perhatian pemda aku khawatir sumber daya air kami akan terancam. Untuk kalian yang tertarik berwisata ke sini aku menghimbau untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sampah plastik terutama di dalam air.

Dan dimanapun tujuan berwisata sebaiknya kita tidak menjadi agen perusak lingkungan dengan membuang sampah sembarangan, jangan bangga udah pergi kemana mana kalo buang sampah aja masih lupa dimana tempat nya, kekinian boleh saja asal jangan norak ga jelas di tempat penduduk lain, sebagai tamu yang berwisata menjaga adab adalah salah satu bentuk menghargai mereka.

Btw, ada ga yang satu kampung halaman sama aku? or yang juga tertarik main kesini? tapi ingat untuk ga buang sampah sembarangan ya 😄.