Spread the love

Hai guys, bicara mengenai media sosial dengan generasi milenial saat ini bagai dua sisi mata uang, kedua nya tidak lagi bisa dipisahkan dalam aktifitas sehari-hari. Interaksi sosial yang diperantarai oleh jaringan internet ini sungguh memiliki efek domino yang kuat bagi para pengguna nya, efek yang bagai dua mata pisau dapat mendatangkan kebaikan juga keburukan bergantung bagaimana kontrol penggunaan nya.

Bagi para pengguna yang bijak mereka berusaha memilah mana informasi yang mereka butuh atau tidak butuhkan, mereka menahan diri dari bereaksi terhadap isu-isu yang belum jelas kebenaran nya, mereka juga menahan diri dari berkecimpung dalam suatu komuniti sosial media yang memiliki potensi keburukan untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Namun bagi mereka yang kurang peka dengan dinamika media sosial, dengan keabsahan sebuah informasi kebiasaan menelan mentah-mentah lalu menjustifikasi sebuah isu terkini adalah awal mula dari muncul nya kekisruhan yang salah satu nya dapat berujung pada cyber bullying dan perpecahan dalam masyarakat. Kekurang pekaan dengan dinamika media sosial ini juga berpotensi mendatangkan keberbahayaan bahkan tindakan krimina yang bisa mencelakai diri sendiri maupun orang-orang terdekat kita.

Lain hal nya bagi para pengguna cerdas media sosial, mereka mampu menfaatkan cepat nya arus informasi menjadi sebuah peluang yang menguntungkan tanpa merugikan pihak manapun, seperti memanfaatkan sosial media untuk mengukuhkan eksistensi diri dan memajukan bisnis. Lebih luar biasa lagi adalah para pengguna yang memanfaatkan sosial media sebagai sarana mengedukasi masyarakat dengan pengetahuan-pengetahuan dan keahlian positif yang mereka miliki seperti para blogger, vlogger dan influencer.

Menulis bahasan ini saya jadi teringat dengan beberapa rekan yang mengeluhkan permasalahan nya akibat efek negatif dari media sosial. Sebenarnya ini adalah salah satu hal yang ingin saya soroti dalam bahasan efek domino dari media sosial. Oke, kasus yang ingin saya bahas ini adalah tentang Reuni, siapa sih yang ga kenal dengan kegiatan reuni berkumpul lagi bersama teman-teman masa lalu entah SD, SMP, SMA atau Kuliah, asik kan?, seru kan? banyak nostalgia, iya nostalgia sama mantan salah satunya -_-,. Banyak hal terjadi setelah kegiatan reuni, salah satunya adalah rusak nya bahtera rumah tangga seseorang. Inilah salah satu efek domino dari media sosial, mendekatkan yang jauh menjauhkan yang dekat (syedih). Dulu sosial media belum semarak seperti saat ini sehingga potensi untuk terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini masih rendah. Tapi dengan kemajuan teknologi komunikasi maka jarak sudah tak lagi jadi masalah, saat ini manusia sudah memiliki akses komunikasi yang tanpa batas juga tanpa terkontrol, ha ha susah emang kalau udah urusan hati mah yak ;p.

Ceritanya teman saya ngeluh doi berantem sama suami nya gara-gara sang suami sibuk reuni dari pagi sampai petang (reuni apaan ya selama itu heuk). Dan yang bikin temen saya kesel dia lintang pukang ngurusin 3 anak nya yang masih kecil-kecil dan dengan kondisi ART nya habis resign jadi ga adalah yang bantuin, anak-anak nya juga semua nya super aktif bisa dibayangin kan ya crowded nya kaya gimana, saya sendiri yang baru ngurus 1 anak udah keteteran apalagi dia. Tapi alhamdulillah masalah mereka sepertinya bisa tertangani karena sekarang sudah bisa adem. Nah kasus lain yang lebih parah ya karena ada CLMU alias Cinta Lama Minta Ulangan walaupun keduanya sama-sama udah punya pasangan tetap aja terjadi juga, yang ini bahkan berakhir sampai ke sidang perceraian, sedih banget ;'(, semuanya terjadi setelah reunian mereka masih melanjutkan komunikasi nya via jejaring sosial Whatsup dan saya kira kejadian seperti ini sudah banyak kita dengar dimedia sosial juga ya.

Disini saya hanya ingin membantu meluruskan  pemahaman menyambung tali silaturahmi, karena apapun alasan nya kalau yang sambung menyambung urusan mantan atau teman yang dulu pernah ada riwayat suka bisa lain ceritanya ;D. Kalau kata Ustad Hannan Attaki silaturahmi dengan mantan ga usah disambung karena kalau tetap dilakukan itu hanya akan membuka pintu setan, setan akan punya peluang yang lebih besar lagi untuk memporak porandakan mahligai pernikahan yang sudah susah payah dibina antara pasangan suami istri.

Kita memang tidak bisa menolak efek domino dari media sosial tapi kita bisa meminimalisai efek negatifnya dengan mengontrol diri saat ber-media sosial, kita tidak pernah tahu apa yang akan diakibatkan oleh ketukan satu jari kita di media sosial, bisa saja itu menjadi penyebab terbunuh nya karakter seseorang, runtuhnya rumah tangga seseorang dan hal-hal buruk lain nya yang juga mungkin bisa menimpa diri dan keluarga kita sendiri. Di dunia yang batasan itu sulit untuk ditentukan seperti dunia media sosial ini, hanya kita sendirilah yang harus membuat batasan itu, batas mengenai pantas dan tidak pantas untuk dilakukan di media sosial. Saya mengajak sahabat pembaca sekalian untuk sama sama menjadi pengguna sosial media yang bijak dan cerdas, memanfaatkan kemudahan media sosial hanya untuk hal-hal positif baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Jangan sampai kita secara tidak sadar menjadi agen pemecah belah rumah tangga dan pemecah belah persatuan bangsa karena sembrono dalam menggunakan media sosial, mari kita lebih dewasa dalam menggunakan media sosial apapun jenis media nya.

 

 

Sumber Gambar Ilustrasi : lesplan.com

 

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here