Picture Courtesy of Google
Spread the love

Sejujurnya ini masih menjadi draft dan baru sempat menulis judul nya saja karena tiba-tiba si bayi datang pengen ikut nimbrung walhasil buru-buru nuntup laptop dan ga sengaja keyboard laptop pun tertekan publis, akhirnya terpublis di blog hanya berupa judul tulisan tanpa apa-apa sama sekali ha ha. Tapi meski baru judul ternyata sudah banyak mengundang viewers jadi saya putuskan untuk lanjut menulis saja. Waktu yang saya habiskan bertualang ke dataran tertinggi di Indonesia ini cukup panjang sekitar 8 hari 7 malam, jauh lebih lama dibanding petualangan-petualangan di pulau Jawa lainnya.

Salah Satu Panorama dataran tinggi Dieng yang mempesona. Telaga Warna yang berdampingan dengan Telaga Pengilon. Picture Courtesy of Google

Banyak sekali yang saya lakukan selama di Dieng ini, memang sebaiknya diceritakan secara runut dan menyeluruh tapi akan sangat panjang jadi saya putuskan untuk bercerta tentang masyarakat Dieng terlebih dahulu karena bagi saya topik humanitarian jauh lebih menarik dibanding destinasi traveling itu sendiri, tanpa mereka sebuah tempat yang indah tidak akan pernah punya riwayat cerita. Dataran tinggi Dieng telah banyak diekspos keindahan nya bahkan dikenal hingga manca negara akan lebih adil bila pola kehidupan masyarakat nya turut menjadi pesona yang melengkapi keindahan dan keunikan Dieng karena sejauh ini masih belum banyak yang mengupas mengenai pola kehidupan masyarakat penghuni dataran tertinggi di Indonesia ini.

Gapura Selamat Datang Dieng

Menurut info dari wikipedia.org Dataran Tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dieng memiliki Ketinggian rata-rata sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 12—20 °C di siang hari dan 6—10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas (“embun racun”) karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian. Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.[1] Teori lain menyatakan, nama Dieng berasal dari bahasa Sunda (“di hyang”) karena diperkirakan pada masa pra-Medang (sekitar abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.

Tak hanya memesona dengan berbagai keindahannya Dieng juga sarat dengan sejarah. Picture Courtesy of Google

Perjalanan menuju Dieng saya mulai seorang diri beberapa hari pasca lebaran di tahun 2013 sekitar akhir Juli sebagai jawaban atas ajakan balik dari teman-teman asli Dieng yang menamai komunitas petualangan nya dengan sebutan Bakal Adventure dimana sebelum nya kami bersama mengeksplorasi pegunungan Jawa Barat selama 1 minggu. Bakal Adventure mengambil nama dari desa tempat mereka tinggal yaitu Desa Bakal, salah satu desa yang berada di wilayah dataran tinggi Dieng, sebuah desa yang berada ditengah cekungan pegunungan, sebuah desa yang dekat dengan pusat destinasi mendunia Dieng, sebuah desa yang memberikan saya kesempatan secara langsung merasakan chemistry menjadi penduduk dataran tinggi yang begitu dingin, sebuah desa tempat saya menghabiskan banyak waktu mengenal kehidupan masyarakat Dieng secara langsung.

Desa Bakal Dieng, penampakan atap hijau menjadi spot intens berinteraksi dengan masyarakat (baca; tempat menginap ;D). Picture Courtesy of Dieng.org

Saya berangkat dari rumah Ibu di Klaten pagi-pagi dengan diantar adik keponakan menggunakan motor menuju terminal Boyolali. Oya biasanya jika saya tertarik ke suatu tempat saya spontan akan berkemas dan berangkat tanpa tahu bagaimana cara menuju kesana semuanya terjadi alami begitu saja seperti ini menurut saya lebih membuat hidup perjalanan. Cukup hanya bertanya dengan menggunakan kendaraan apa dan selebihnya informasi akan saya peroleh dari orang-orang disekitar saya melalui obrolan yang saya buka di dalam kendaraan, saya selalu punya keyakinan bahwa saya akan sampai pada tujuan yang saya inginkan dan kenyataanya memang selalu sampai tanpa banyak kendala, alhamdulillah.

Terminal Boyolali

Dari Boyolali saya berhenti di terminal Bawen Semarang untuk menyambung bus menuju Terminal Wonosobo. Bus yang saya tumpangi sangat padat dan tanpa AC, bus-bus lama bisa teman-teman bayangkan sendiri heheu, kalau sekarang mungkin sudah ada bus AC karena terminal Bawen kini sudah kian berkembang. Meskipun awalnya kegerahan duduk di kursi belakang syukur semakin menuju Wonosobo penumpang semakin berkurang dan bus terasa lebih lengang dan tidak sumpek karena angin-angin sejuk dari pegunungan cukup berhasil mengusir gerah. Sekitar 2,5 jam perjalanan dari terminal Bawen tibalah saya di terminal Wonosobo yang cukup lengang susasna nya, yang tampak ada beberapa mini bus salah satu nya Dieng Indah rupa nya akan berangkat mengantar penumpang menuju pusat wisata Dieng, selain itu saya juga agak terkejut ya melihat di terminal tersebut terpasang spanduk besar dari Kepolisian setempat yang menghimbau untuk berhati-hati karena wilayah terminal rawan dengan gendam wow sepertinya saya harus lebih waspada karena sendirian namun saya berusaha untuk tidak terlihat takut tergesa dan panik karena tipikal-tipikal seperti ini bakalan jadi inceran pertama para pelaku kejahatan, stay cool stay calm dont panic itu kunci nya, penjahat juga akan mikir berhadapan dengan orang orang seperti ini. Semoga terminal Wonosobo kini semakin lebih aman dan nyaman khususnya bagi para wisatawan.

Terminal Bawen Semarang

Saya tidak terburu-buru karena kebetulan ada seorang teman kuliah yang juga teman seperguruan bela diri yang tinggal di Wonosobo dan sedang dalam perjalanan menjemput ke terminal, Irfan nama nya. Tidak lama menunggu sekitar 10 menit Irfan datang bersama paman nya mengandarai pick up lengkap dengan alunan dangdut nya wkwkw, wah ga nyangka ternyata seoranag Irfan juga bisa menikmati dangdut (ngakak so hard). Oya saya menyadari bahwa ketika memutuskan bertualang maka segala bayangan kenyamanan akan saya singkirkan menggunakan moda transportasi apapun tidak jadi masalah, bahkan jika tidak ada kendaraan berjalan kaki pun tidak apa-apa saya sering melakukannya. Saya belajar dari Ayah seorang yang sangat menikmati yang namanya berjalan kaki ber kilometer di alam liar, saya juga tipe orang fleksibel dan mudah kompromi tidak terlalu suka memperumit situasi tidak juga kebanyakan syarat.

Terminal Wonosobo

Sekitar 40 menit perjalanan tibalah saya di kediaman Irfan di desa Kejajar siang menjelang sore, rencananya esok saya akan menemui teman-teman Bakal Adventure di wilayah Dieng Kulon (Dieng barat) atau kata Irfan biasa disebut Dieng Atas yang masuk wilayah administrasi Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara sementara kediaman Irfan adalah wilayah Dieng Wetan (Dieng timur) atau Dieng Bawah yang masuk di wilayah administrasi Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Agenda pertama malam itu sebenarnya Irfan mau mengajak saya ke Alun-Alun Kota bareng beberapa kerabatnya katanya sedang ramai ada pasar malam dan pagelaran musik sebagai rangkaian acara peringatan ulang tahun kabupaten Wonosobo.

Alun-alun Wonosobo saat malam hari

Tetapi beberapa saat menjelang berangkat tiba-tiba salah satu teman dari Bakal Adventure Hanif menelpon, ternyata sudah ada di depan jalan raya dekat rumah Irfan, dia diminta Lucky ketua BA yang pertama saya kenal dulu sebelum teman-teman BA lain nya untuk menjemput saya menuju Bascamp di Desa Bakal. Hahha berasa FTV deh lol, waktu itu saya bilang pada Hanif akan ke alun-alun dulu besok baru ke Basecamp tapi Lucky bilang ga usah ke alun-alun karena malam ini saya diajak untuk camping di bukit Sikunir untuk hunting golden sunrise nya yang terkenal itu, bareng anak-anak Mapala IAIN Walisongo. Finaly saya gak jadi ke alun-alun dan malah berangkat ke desa Bakal saat itu juga huhu maaf ya Fan udah ngerepotin.

Bersama teman-teman petualang Bakal Adventure saat bersiap mendaki Gunung Gede

Ketika sampai di basecamp suasana sangat ramai karena Bakal Adventure ini juga melayani guiding pendakian dan wisata, waktu zaman saya dulu masih guiding suka rela kalau sekarang saya rasa sudah komersil karena tidak sedikit juga yang minta di guiding mendaki dan keliling Dieng. Lanjut cerita, saya ga jadi ikut camping di Sikunir karena masih lelah perjalanan seharian dan memilih istirahat di kamar sendirian, salah satu alasan lagi karena hawa nya yang super duper duingiiiiiiiin karena itu pertama kali nya saya menginjakkan kaki di dataran tinggi Dieng dan tepat saat puncak musim panas. Sebenarnya saya sengaja datang di puncak musim panas Dieng karena akan mengejar fenomena  “Embun Upas” itu kita akan menemukan lapisan es di atas seluruh tanaman kaya salju tapi tipis tipis. Embun Upas ini tenyata ga diinginkan lhoh sama masyarakat Dieng yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayur karena bisa menyebabkan gagal panen.

Penampakan Dieng di siang hari dilihat dari gardu pandang Tieng

Intensitas sinar matahari yang tinggi dari pagi sampai siang ditambah hawa sangat dingin dan semakin bertambah dingin bahkan sampai 0 derajat celsius saat jelang subuh jadilah banyak daun tanaman yang seolah terbakar dan akhirnya mati setelah embun embun es itu mencair di pagi menjelang siang. Jadi saya faham mengapa wajah-wajah penduduk dataran tinggi itu khas dengan pipi yang merah juga bahkan mencoklat ini karena faktor kontradiksi antara panas nya sinar mata hari dan hawa yang begitu dingin.

Fenomena Embun Es Dieng pada puncak musim panas bulan Juli-Agustus, Picture Courtesy of Google
Nah begini kondisi tanaman pasca Embun Es nya mencair, daun tanaman mencoklat dan mati

Saya sendiri mengalami langsung bagaimana kulit wajah hancur mengelupas di hari ke-8 saat hendak pulang ke Jakarta, sampe harus pake masker saat pulang hahaha. Ini juga yang membuat saya begitu terkesan dengan Dieng bayangkan saat akan shalat subuh mau berwudhu permukaan air di bak mandi sudah membeku membentuk lempengan tipis es betul betul asoy geboy, semalaman saja saya harus memakai 3 lapis sleeping bag dan ini harus berguyar guyur dengan air es untuk wudhu nangis nangis saya di kamar mandi gemetar kedinginan, penasaran berapa suhu saat itu ternyata sudah dibawah 0 derajat C ;D. Sejak saat itu saya menyadari ternyata hawa yang terlampau dingin itu sungguh menyiksa jadi udah hilang tuh bayangan asik nya main salju di negeri 4 musim wkwkwk. Dan jadi mahfum diluar sana musim salju jadi musim yang cukup ditakuti ya karena bikin banyak aktifitas jadi ga nyaman. Pernah baca laporan berita kalau musim salju itu jadi pembunuh pertama para kaum homeless, sedih ya ;(.

Nah pada bagian ini saya kan merinci seperti apa pola kehidupan masyarakat dataran tinggi Dieng ini ssebagaimana yang saya lihat, dengar dan rasakan he he langsung aja ya.

Fisik Kuat dan Tangguh

Pertama kali mengenal teman-teman Bakal Adventure saat mengeksplor bersama pegunungan di Jawa Barat saya cukup dibuat terkesan dengan performa mereka saat mendaki 4 gunung dalam 1 minggu, nyaris tidak saya dengar tarikan-tarikan nafas yang panjang. Seperti nya aktifitas pendakian bukan jadi hal yang menyulitkan untuk mereka. Dari mereka pula saya diajari tips efektif mendaki yang biasa diterapkan oleh penduduk dieng. Mulai dari cara yang tepat untuk packing, cara yang tepat menggendong tas carrier dan cara mendaki menuruni pegunungan. Dari semuanya hal yang paling saya ingat adalah cara mereka menuruni gunung yaitu dengan berlari, sebelum berlari pastikan seluruh tapak kaki memijak penuh diatas permukaan tanah, kedua tangan menggenggam gendogan tas carriel. Ketika mulai berlari berikan tekanan lebih pada tapak kaki sehingga setiap pendaratan tidak akan menimbulkan resiko oleng dan terjatuh, berlarilah dengan kondisi seperti ini dengan konsisten dan saat berhenti usahakan tidak terlalu lama cukup beberapa detik untuk mengambil napas atau beberapa menit untuk minum. Menurut pengakuan mereka cara ini lebih efektif menghemat energi dan waktu, lelah-lelah sebaiknya dikumpulkan saja di akhir pos pendakian.

Bersama teman-teman Bakal Adventure sesaat sebelum mendaki gunung Salak, mereka semua kuat dan tangguh dalam dunia pegunungan

Salah seorang teman BA pernah mengatakan kalau para petani Dieng lebih kuat lagi tidak hanya berlari saat menuruni lahan pegunungan tapi juga berlari menanjak dengan 2 beban karung besar hasil panen. Ternyata omongan mereka bukan bualan semata karena saya sendiri menyaksikan langsung para petani Dieng melakukan hal tersebut. Barangkali sama hal nya para nelayan yang kuat menyelam didalam laut tanpa alat bantu pernapasan, masyarakat Dieng juga kuat dalam menaiki dan menuruni pegunungan dengan cepat semuanya berkat didikan alam dimana mereka tinggal.

Para Petani Dieng sedang mengangkut hasil panen kentang. Picture Courtesy of VOA Indonesia

Saya sebagai seorang yang cukup lama bersinggungan dengan kota tidak berniat untuk membantah apa yang mereka katakan karena bagi saya apa yang mereka katakan lebih dari cukup untuk saya percayai, alam memberi mereka pengetahuan yang tidak didapat diperkotaan yakni pengetahuan empiris  (berdasarkan pengalaman hidup yang lama)mengenai efiktifitas dan efisiensi energi didalam pendakian, mempercayai nya adalah satu bentuk menghormati proses panjang mereka dalam mendapatkan pengetahuan empiris tersebut.

Mayoritas Berprofesi Sebagai Petani Sayur

Masyarakat Dieng mayoritas berprofesi sebagai petani sayur

Hari ke 2 di Dieng, karena saya ga jadi ikut camping di bukit Sikunir akhirnya saya diajak ngelihat cara orang Dieng bertani dan sempat ikut manenin wortel seru deh he he. Oya kata Irfan yang keluarga nya juga petani, komoditi utama nya pertanian Dieng adalah kentang tapi waktu itu saya udah kelewatan waktu panen kentang jadi cuma bisa ikut panen wortel nya ;D.

Pola lahan pertanian dataran tinggi Dieng yang berundak

Kalau kalian pernah ke Dieng pasti kalian lihat pola lahan nya berundak karena memang kontur tanah Dieng kan pegunungan, jadi lumayan ngos-ngosan karena lahan panen nya nanjak ke atas itu juga saya udah dibantu naik motor karena hayati masih lelah dari perjalanan panjang dan berat nya beban menanggung derita kehidupan (aposeh). Tapi tetep harus jalan mendaki juga, pertama hal unik yang saya lihat adalah para petani Dieng bertani dengan memakai jaket ga seperti yang biasa saya lihat ditempat-tempat lain, lucu sih liat nya padahal matahari nya terik banget tapi hawa nya dingiiiin hembusan angin nya apalagi. Semakin ke atas kadang lahan pertanianya ketutup kabut heheu seru banget, rasanya kaya lagi ada di negeri atas awan pantes aja kalo Dieng di juluki tempat persinggahan para dewa.

Diajak Mas Joe memanen wortel Dieng
Sedikit menunjukkan skill anak IPB ikut panen dadakan lumayan rapi ga malu kalo disebut alumni IPB hi hi
Begini kondisinya kalau kabut mulai datang suasana langsung jadi samar dan lebi dingin semakin malam akan semakin banyak kabut yang muncul

Setelah ikut manen wortel saya diajak ikut makan bekal yang dibawa ibu petani anak buah nya mas Joe, kata doi saya harus coba salah satu makanan khas nya Dieng yaitu Tempe Kemul dan kebetulan dibawa sama  si ibu petani, kita makan pake rantang susun jadul itu di bawah gubuk derita eh gubuk peristirahatan maksudnya he he nyam nyam apapun makanan nya kalo lagi laper mah sedap yak apalagi suasana kayak di buku cerita legenda nusantara ;D. Jadilah saya ikut ngurangin jatah bekal nya ibu dan bapak tani maaf ya pak karena sejujurnya saya juga laper belum sarapan dan ibu bapak nya baik banget saya malah suruh ngabisin wkwk ;p.

Tempe Kemul penganan khas masyarakat Dieng. Picture Courtesy of Google

Nah Tempe Kemul sendiri sebenarnya seperti tempe mendoan cuma istilah sini sebutan nya Tempe Kemul, kemul adalah bahasa jawa artinya selimut jadi tempe berselimut terigu hanya aja tekstur agak lebih keras dibanding tempe mendoan dan kalau ga salah inget adonan tepung nya ditambah irisan kecil daun bawang. Oya orang Dieng selain makan nasi juga makan Sego/Nasi Jagung yang dibentuk kotak-kotak padat yang biasanya juga dibawa sebagai bekal ke lahan atau bekal mendaki gunung itu kata teman saya Jhon Lukman yang nanti doi juga salah satu yang dengan rela nemenin saya bertualang ke spot-spot ga biasa nya Dieng alias spot yang masih jarang terjamah wisatawan, anak ini nyentrik abis dan kreatif. Nanti akan ada cerita sendiri ya khusus petualangan di Dieng.

Ada lagi nih kejadian lucu, waktu itu pagi-pagi temen-temen BA nantangin bisa masak apa engga kata mereka perempuan jaman sekarang pada gak bisa masak, bah mereka ga tahu rupanya lagi berhadapan sama chef serba bisa (gegayaan ;p). Ga pake babibu langsung saya jabanin nyari-nyari bahan yang ada didapur, tersisa cuma kentang, daun bawang, sebiji telur dan sedikit bawang merah bwahahah mau dibikin apa deh bahan cuma segin lol. Akhirnya mutusin bikin semur kentang aja deh, bahan udah dicuci dan dirajang tinggalah waktu menumis bumbu cari-carilah minyak goreng dilemari dapur ternyata ga ada woi.

Kurang lebih seperti ini minyak yang bikin saya bolak balik nanya ;D

Nanya sama temen-temen BA katanya ada di lemari saya cek lagi tetep ga ada selain sesuatu yang warna nya putih berbentuk kotak panjang dalam batin jangan-jangan ini yang dimaksud minyak nya, meyakinkan diri nanya lagi ke temen BA ini beneran minyak nya lengkap dengan muka heran. Dan mereka jawab iya itu minyak nya nanti pakainya kamu iris aja, minyak Dieng emang begini kata mereka. Seumur umur baru kali ini ngerasaan mau masak kudu ngiris minyak dulu bhahahahk, akhirnya minyak goreng beku ini masih teringat meski udah 5 tahun berlalu (oh cepatnya waktu -_-).

 

Gemar Kopi dan Merokok

Masyarakat Dieng terutama pria gemar kopi dan merokok. Picture Courtesy of Google

Barangkali karena cuaca Dieng yang dingin membuat orang-orang Dieng seneng banget yang namanya ngopi dan merokok biasanya dipagi hari atau malam hari. Ini temen saya anak BA semua nya merokok ga ada yang enggak, tapi sejujurnya ini membuat saya kurang nyaman sempat iseng rokok teman saya Mas Chika saya ambil dari kemasanya yang masih baru dan hanya saya sisakan sebatang, niatnya mau saya buang malah kesimpen di jaket eh pas jaket saya titip ke jhon lukman dia nemuin banyak rokok melempem di kantong jaket dia kaget di kira nya saya perokok yang diem diem. Kesan dia katanya saya anak alim tapi kok merokok ha hahah, maaf jhon itu tak seperti kelihatanya aku bisa jelaskan ;p. Gara gara kejadian itu saya jadi bikin pengakuan dosa sama mas Chika kalau rokok nya saya ambil mau dibuang, dia bilang pantesan kok rokok baru tinggal sebatang dan saya balikin lah tuh rokok-rokok melempem tadi ke mas chika, dia malah ketawa katanya rokok melempem ga enak jadi dibuang aja, yes misi berhasil wkwkw (ngeselin ya saya ). Selain itu selera musik nya orang Dieng itu Dangdut sumpah selama 8 hari 7 disana saya selalu denger dangdut koplo berkumandang dimana mana pas lagi jaman hits nya “tutupen botol mu tutupen oplosan mu la la itu” sampe apal saya ha ha.

Punya Selera Humor Yang Asik

Petualangan seru penuh canda tawa di Dieng bersama teman-teman lokal dan non lokal

Nah biasanya nih kalo lagi ngopi gini rame-rame dan bahas apa aja yang ujung-ujung pasti ndagel, selama disana setiap hari ga bisa kalau ga ketawa ini berdasarkan apa yang saya alami jadi bisa aja subjektif untuk yang lain. Saya juga ga ngerti apa ada korelasi nya antara daerah tinggal yang berhawa dingin dan diatas ketinggian dengan karakter lucu ini rasanya perlu nih anak-anak sosek dan psikologi menjadikan ini bahan penelitian ;D.

Huruf Y Berlafal Z

Satu lagi yang lucu, kalau orang Sunda terkenal mengganti lafal Z menjadi J kalau orang Dieng akan merubah lafal huruf Y menjadi Z, makanya ada istilah  orang Dieng/Diyeng juga dipanggil dengan sebutan “Wong Ndizeng” ha ha. Saya ada cerita lucu nih dari temen saya juga asli Dieng tapi bukan anak BA namanya mas Silo, kayaknya jadi punya temen banyak ya saya di Dieng ini wkwk alhamdulillah jadi punya banyak saudara dan kampung halaman baru buat mampir mampir lagi. Nah doi kasih lelucon tentang huruf Z itu katanya “ eh Lu’ wong ndizeng nek puzing puzing bakal mlazu mlazu ngasi kepuzuh puzuh “ kurang lebih gitu sih ga usah di artiin ya disensor titt, tapi yang orang Jawa pasti ngerti ;D.

Oya jangan kaget ya orang Dieng kalau ngobrol sesama nya ebuseett cepeeeet banget merepet kayak kereta yang kedengaran sama kuping saya cuma “blukutak blukutuk mazo mazo lha kiyek lha kuwek sira kayak telo mbongkeng ” lol ;D secara saya dari Surakarta yang kalo bicara perlahan jadi agak kaget gitu tapi saya terhibur banget kalau denger mereka lagi ngobrol tuh kayak nya asik banget kayak lagi makan kacang sama kwaci kwkwwk.

Dapur Menjadi Ruang Bersosialisasi

Dapur sebagai tempat bersosialisasi. Picture Courtesy of Google

Selama di Dieng ada saja saya dibuat mengetahui kebiasaan baru yang unik, salah satu nya saat di hari ke 3 saya memilih untuk menginap di rumah sepupu perempuan nya Jhon Lukman agar lebih leluasa beraktifitas karena sesama anak perempuan. Pertama kali saya diperkenalkan Jhon Lukman dengan dek Zuhrotun yang akhirnya malah jadi temen ngobrol dan curhat wkwk padahal juga baru kenal, keluarga nya Jhon Luk ini ramah-ramah banget. Oya yang bikin heran pas awal masuk rumah saya malah diantar ke dapur didekat perapian sama sekali ga nyentuh ruang tamu. Saya mikir dapur kan cukup jadi privasi dalam rumah ya kok saya langsung diminta masuk ke dapur (GR ceritanya) ternyata oh ternyata memang sudah jadi tradisi orang Dieng menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman didapur bersama satu alat penghangat khas Dieng yang disebut Anglo. Alat penghangat ini lebih femes dan digemari masyarakat Dieng dibanding Blackpink atau Super Junior ( halaah bawa bawa artist korea lagi ;D), jangan heran kalo Anglo ini dibawa juga sampe kepuncak gunung, kata temen BA Anglo udah jadi separuh jiwa nya orang Ndizeng heheu.

Anglo (tungku perapiaan) khas Dieng tidak bisa dipisahkan dari ritme kehidupan masyarakat Dieng

Ada satu kejadian yang bikin saya terharu banget berhubungan dengan Anglo ini. Di hari terakhir saya di Dieng ceritanya mau pamitan ketemen temen BA di basecamp dan sempet mampir ke kamar mandi nya sebentar buat wudhu jadi basahlah sendal out door yang saya pakai. Setelah pamit dari BA saya kembali ke rumah Zuhrotun juga untuk pamit dan mengambil tas Carrier di kamar, saya juga jadi ikut terbiasa ketika masuk rumah pasti lewat dapur bukan lewat depan didapur lagi ada Bapak nya Zuhrotun lagi motong-motong kayu bakar. Saya permisi lewat untuk sholat dan berkemas ulang, saat udah selasai saya menuju dapur karena disitulah rupanya keluarga Zuhrotun sedang berkumpul, di pintu saya celingak celinguk nyari sendal outdoor kemana gerangan enyah nya.

Sendal outdoor yang dipakai selama bertualang di Dieng pernah mendapat perlakuan mulia ;”). Lokasi; Kawah Sikidang Dieng

Kesana kemari mencari (alamat palsu ;D) saya ga lihat batang hidung si sendal akhirnya bertanya sama keluarga nya Zuhrotun yang lagi berkumpul didapur apakah tahu dimana sendal outdoor saya. Dan Bapak Zuhrotun yang pertama jawab “ Ini sendal nya lagi bapak keringin di deket anglo, biar kamu pulang ke Jakarta sendal nya gak basah-basah nanti dingin di bus” ternyata Bapak Zuhrotun lagi megang dan ngipas-ngipasin sendal outdoor saya dideket anglo supaya cepet kering. Disitu hati merasa terharu banget sebegitunya saya dihargai disana ;’). Secepat kilat saya langsung menghampiri Bapak Zuhrotun “ Bapak ga usah, saya udah biasa pake sendal basah” ga pa pa ini udah lumayan kering yang satu, tinggal satu nya lagi tunggu bapak keringin dulu” disitu bingung, saya harus ngomong apa selain nurutin mau nya bapak Zuhrotun, bapak nya Zuhrotun yang terlalu baik tapi saya nya yang jadi merasa ga sopan tapi gimana huhu dilema ;”(.

 

 

BERSAMBUNG KE BAGIAN 2

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here